FMN Yogya Demo Tolak Intervensi Asing Kasus Ambalat
Rabu, 23 Mar 2005 15:54 WIB
Yogyakarta - Sekitar 100 orang Front Mahasiswa Nasional (FMN) Yogyakarta menggelar demo menolak intervensi asing dalam sengketa Blok Ambalat antara Indonesia dengan Malaysia. Mereka mengingatkan adanya konspirasi asing yang ingin mengambil keuntungan dari kasus tersebut.Aksi yang digelar hari ini Rabu (23/3/2005) dimulai pukul 13.15 WIB itu diawali dari Jl Abu Bakar Ali, di sebelah utara Hotel Inna Garuda, Yogyakarta. Setelah berkumpul, massa kemudian melakukan aksi long march di Jl Malioboro.Selain membawa beberapa bendera FMN warna merah, massa juga membawa poster bertuliskan 'Awas Pulau Ambalat dalam cengkeraman asing, hentikan kepentingan asing Shell, ENI, Unocal di Ambalat, Minyak di Ambalat untuk rakyat miskin.'Setelah long march, massa kemudian menggelar orasi dan aksi duduk di depan pintu gerbang DPRD DIY di Jl Malioboro. Koordinator aksi Samsudin Nurseha dalam orasinya mengingatkan adanya kepentingan asing yang berusaha mengail di air keruh ketika terjadi sengekat di Blok Ambalat antara Indonesia - Malaysia.Menurut Samsudin, kepentingan asing itu diwakili oleh perusahaan minyak asing seperti Shell (Inggris-Belanda), ENI (Italia) dan Unocal (AS) yang memperoleh hak eksplorasi minyak di Ambalat. Munculnya sengketa Blok Ambalat adalah bukti nyata adanya kepentingan asing yang ingin mengambil kekayaan dan keuntungan dari konflik kedua belah pihak. "Intervensi asing dalam kasus Ambalat harus kita tolak dan kita tidak bisa didikte oleh asing," katanya.Selain masalah Ambalat, FMN juga menyoroti kasus kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-Kalla. Sebab, naiknya harga minyak di negara Indonesia yang dikenal sebagai negara kaya sumber minyak itu adalah sebuah ironi.Dia mengatakan, naiknya harga minyak dengan dasar naiknya harga minyak mentah dunia adalah hal yang tak masuk akal. Hal itu juga sebagai bukti bahwa pemerintah tidak bisa lepas dari cengkeraman imperalisme asing yang ingin menguasai negara lewat perusahaan-perusahaan minyak. "Pemerintahan SBY justru semakin menunjukkan watak aslinya sebagai rezim anti rakyat dan boneka asing," tegas Samsudin.Setelah berorasi selama 60 menit, massa kemudian melanjutkan menuju perempatan Kantor Pos Besar di Jl Senopati. Di sepanjang Malioboro, massa juga meneriakkan yel-yel 'tolak kenaikan harga BBM, tolak intervensi asing dan SBY boneka AS.'
(asy/)











































