DetikNews
Selasa 12 Juli 2016, 08:30 WIB

Cerita Pemudik yang Salah Perhitungan Saat Arus Balik

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Cerita Pemudik yang Salah Perhitungan Saat Arus Balik Foto: Andrian/pasangmata.com
Jakarta - Perkiraan puncak arus balik lebaran terjadi pada Sabtu dan Minggu 9-10 Juli 2016. Namun ternyata tak sedikit pemudik yang salah perhitungan untuk kembali ke Jakarta.

Salah seorang pembaca detikcom, Yudi mengirimkan keluh kesahnya yang harus terjebak kemacetan meski puncak arus balik lebaran telah lewat. Bahkan saat ini Yudi beserta keluarga masih berada di Batang, Jawa Tengah dan akan kembali melanjutkan perjalanan.

"Iya semalam saya sudah sempat terjebak macet, apa lagi pas masuk ruas Kendal, Weleri di sana ada insiden kecelakaan. Jadi kami memutar via jalur Kendal, Patebon, Pegandon, Weleri. Selepas Roban, masih macet lagi karena antrean SPBU di Subah," tutur Yudi saat dihubungi detikcom, Selasa (12/7/2016).

Yudi dan rombongan pun terpaksa bermalam di alun-alun kota Batang sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Meski salah perhitungan dirinya sudah mengatur strategi agar tidak mengalami gangguan perjalanan menuju Jakarta.
Arus balik mudik lebaran dari Batang


"Ya salah perhitungan memang, karena saya pikir puncak arus balik itu Minggu. Tapi teman yang balik Minggu malah Senin pagi sudah sampai di Jakarta. Mudah-mudahan 2 jam ke depan di Tol Cipali KM 155 kemacetannya sudah mencair," lanjut Yudi.

"Kita sudah mengatur strategi, pagi ini isi full tank nanti di rest area 227 Brebes sebelum ke Cirebon isi full lagi. Selain itu karena saya gabung komunitas otomotif jadi ada sedikit bantuan teknis dari teman-teman yang berada di sekitar, jadi saling membantu," pungkas Yudi.

Tak Sedikit Pemudik yang Tersasar di Jalur Alternatif

Selain karena salah perhitungan untuk menghindari kemacetan pada puncak arus balik. Ternyata ada juga pengendara yang mencoba jalur alternatif untuk mempersingkat waktu, namun tersasar karena minimnya petunjuk arah.

Seperti yang diungkapkan pembaca detikcom, Heru Sadmiko yang mencoba jalur alternatif via Magetan – Karanganyar – Solo, dan menghemat perjalanan sekitar 2-3 jam. Dia pun berbagi tips bagi pemudik yang akan menggunakan jalur alternatif untuk menggunakan alat bantu navigasi seperti GPS.

"Di dalam kota Boyolali, pemudik disarankan untuk tidak memasuki kota dan diarahkan jalan alternatif tapi sayang di jalan alternatif ini minim rambu petunjuk dan ketiadaan petugas untuk mengarahkan, sehingga ada banyak pemudik yang kesasar, dan untungnya saya memakai navigasi GPS," tulis Heru dalam pesan singkatnya.

Heru juga menjelaskan rute di Pekalongan-Tegal yang banyak pasar tumpah sehingga berpotensi menyebabkan kemacetan.
"Macet selanjutnya di Pekalongan Tegal, karena kendala sempitnya jalan dan banyak pasar tumpah. Namun masuk ke Brexit jam 18.00 dengan harapan 4-5 jam sampai di rumah, begitu masuk tol, ternyata tol sangat padat dan kendaraan hanya bisa dipacu maksimal 90 km/jam, untuk di Palimanan tidak ada kendala antrean yang lama," jelasnya.

Selanjutnya ketika memasuki Tol Cikampek, dia sempat menghadapi kemacetan di sekitar rest area KM 42. Namun selepas KM 42 arus perjalanan menuju Jakarta terpantau lancar.


(adf/kha)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed