Hujan Kecaman di DPR
Rusdihardjo Dianggap Cari Aman
Rabu, 23 Mar 2005 15:20 WIB
Jakarta - Anggota Komisi I DPR menyesalkan permohonan maaf Dubes Rusdihardjo kepada masyarakat Malaysia. Mereka pun beramai-ramai mengecam Rusdi ketika meminta klarifikasi Rusdi di Gedung DPR,Senayan, Jakarta, Rabu (23/3/2005).Misalnya saja anggota dari FPG Slamet Effendy Yusuf. Dia menyatakan, penjelasan tentang istilah angry dan crazy mungkin bisa diterima, tapi harusnya dipikirkan kenapa sejauh itu karena pasti akan menimbulkan kemarahan orang Indonesia."Saya mendapat kesan Dubes terlalu mudah untuk mencari aman di Malaysia. Itu tidak bisa diterima. Lagi pula kenapa Dubes kita sangat mudah menerima demonstran. Padahal anggota DPR saja yang pernah berdemo di depan Kedubes Malaysia hanya dari pinggir jalan, tidak boleh masuk," kata Ketua Badan Kehormatan DPR ini.Komentar lainnya datang dari Djoko Susilo dari FPAN. "Saya termasuk yang terusik dengan kasus hungry dan angry. Saya melihat yang dilakukan KBRI kita belum tampak betul. Sekarang harusnya dilakukan tindakan kongkret. Misalnya terhadap media massa di Malaysia," urainya.Djoko mencontohkan bahwa media massa Malaysia selalu menggunakan istilah Indon untuk menyebut Indonesia. "Ini menghina Indonesia. Ini harus diambil tindakan tegas," kata eks jurnalis ini."Meskipun kita coba memahami penjelasan Dubes, kita harus lihat juga konteks kemarahan masyarakat di mana kita sudah lama dihina oleh Malaysia dan ini merupakan puncaknya," demikian DjokoHero atau LoserArief Mudatsir dari FPPP juga bersuara keras. Dia menyatakan, saat fit and proper test, Rusdihardjo sudah berjanji untuk mementingkan kepentingan Indonesia di atas segalanya. "Kata maaf itu memang bagus kalau tulus. Tapi yang diucapkan Bapak, sifatnya politis. Lebih baik bila Bapak dideportasi dari Malaysia dan kembali ke Indonesia sebagai hero daripada sekadar menyenangkan Malaysia tapi kembali ke Indonesia sebagai loser. Kalau sampai itu terjadi, mudah-mudahan saja tidak, Komisi I berarti keliru menyetujui Bapak sebagai Dubes."Abdillah Thoha dari FPAN juga angkat suara. Menurutnya, sebagai pejabat resmi mestinya Rusdi berhati-hati menggunakan kata maaf. "Dari sisi agama, memang baik. Tapi secara diplomasi, itu mengakui kesalahan," katanya.Abdillah memahami sikap Dubes yang mencoba mengambil hati Malaysia dengan bersikap sopan. "Tapi harus ada keseimbangan untuk menjaga harga diri dan martabat. Tapi saya juga ingin fair bahwa kesulitan Dubes di luar negeri masalahnya berakar dari dalam negeri sendiri," demikian Abdillah.
(nrl/)











































