DetikNews
Minggu 10 Juli 2016, 05:54 WIB

Menelusuri Batu-batu Aneh Mirip Bidak Catur di Sukabumi Peninggalan Era Megalitik

Wisnu Prasetyo, - detikNews
Menelusuri Batu-batu Aneh Mirip Bidak Catur di Sukabumi Peninggalan Era Megalitik Foto: istimewa
Sukabumi - Di Sukabumi beberapa waktu lalu di Kampung Oclang, Girimukti, Sukabumi ditemukan batu-batu aneh mirip bidak catur. Batu-batu itu diyakini peninggalan bersejarah dan ada yang menyebut terkait dengan sebuah candi.

Arekolog UI Ali Akbar melakukan penelusuran langsung ke lokasi di Kampung Oclang melihat artefak mirip bidak catur itu pada Sabtu (9/7). Lokasi yang berada di kawasan Ciletuh Geopark itu dikenal juga sebagai situs batu bidak.

"Penemuan batu aneh oleh warga Kampung Onclang Desa Girimukti Kecamatan Ciemas Sukabumi Jawa Barat ternyata merupakan artefak unik yang terbilang langka. Jika identifikasi dilakukan melalui foto, maka arkeolog bisa terkecoh. Yang pasti penemuan ini adalah artefak atau buatan manusia masa lalu. Tetapi bukan dari periode Hindu dan Buddha abad ke-5 Masehi. Ini artefak jauh lebih tua, yakni periode Prasejarah saat manusia belum mengenal huruf," jelas Ali.

Ali mengungkapkan dia merevisi pendapatnya terdahulu yang menyatakan artefak ini kemungkinan merupakan bagian dari candi, dengan hanya melihat foto. Setelah melakukan peninjauan ke lapangan dan survei permukaan tanah ternyata ini merupakan artefak yang unik dan menarik.

"Untuk sampai ke lokasi, sebaiknya menuju Panenjoan Ciletuh Geopark. Kemudian berganti kendaraan karena jalan sepanjang sekitar 20 kilometer merupakan jalan berbatu dengan kondisi medan yang menanjak dan menurun. Setelah sampai di Kampung Onclang, situs tersebut hanya sekitar 20 meter dari jalan yang dapat dilalui kendaraan bermotor tadi," urai dia.

Saat di lokasi, Ali melakukan pemeriksaan pada batu-batu itu. Dia juga berbincang dengan sejumlah warga. Dari keterangan warga, didapatkan aneka mitos dan cerita mengenai batu tersebut.

"Penuturan warga setempat, penemuan batu aneh diawali mitos seorang penebang kayu bermimpi dan mendengar suara keras. Kemudian, esok paginya ia berjalan ke sebidang lahan ternyata melihat banyak batu aneh berserakan di permukaan tanah. Pada saat ia menyampaikan ke warga lain dan kembali ke lokasi, batu aneh tersebut tidak ada lagi. Namun, beberapa waktu kemudian akhirnya batu aneh tersebut ditemukan kembali," urai dia.

"Penemuan batu aneh beberapa minggu yang lalu ini, mungkin bisa dipahami sebagai berikut. Letak batu aneh yang berada di perbukitan, pada suatu waktu di masa lalu terkubur oleh tanah. Beberapa minggu yang lalu, terjadi tanah longsor yang akibatnya batu aneh tersebut kembali tersingkap ke permukaan tanah. Namun, sepertinya terjadi longsor lagi sehingga batu aneh berpindah tempat.

"Apa pun kejadiannya, tegas Ali, yang pasti saat ini hamparan batu berbentuk aneh yang jumlahnya lebih dari 100 dapat dilihat di permukaan tanah atau tepatnya di lereng bukit. Beberapa warga menyebutnya Batu Bidak karena bentuknya seperti Anak Catur. Dispardubpora Kabupaten Sukabumi untuk sementara juga menyebutnya Situs Batu Bidak," tambah Ali lagi.

Berdasarkan pengamatan, Ali, terdapat beberapa bentuk batu aneh. Bisa dikatakan tidak ada yang bentuknya sama persis. Namun, sedikitnya terdapat 3 tipe atau bentuk dasar.

Tipe 1 seperti bidak catur. Bagian bawah lebih lebar ukurannya dibandingkan bagian atas. Secara umum terdapat 4 bagian yakni bagian paling bawah, bagian bawah, bagian tengah, bagian atas. Bagian paling bawah adalah bagian untuk menancapkan batu ke dalam tanah, sehingga batu dapat ditegakkan atau berposisi seperti batu nisan. 3 bagian lainnya berada di atas permukaan tanah.

Tipe 2 seperti papan yang lebarnya relatif sama mulai dari atas sampai bawah. Tipe ini juga terdiri atas 4 bagian dengan bagian paling bawah berfungsi sebagai bagian yang menancap di tanah.

Tipe 3 adalah bentuk-bentuk lain misalnya seperti bentuk bulat, oval atau lonjong, dan lainnya namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Tipe 1 dan 2.

"Tipe 1 bentuknya dalam khasanah ilmu Arkeologi mengingatkan kepada Venus atau Dewi Kesuburan bangsa Romawi yang juga sering disebut Ibu Bangsa Romawi. Tipe 1 bentuknya juga mengingatkan pada konsep Mother Goddess yakni terkait konsep kesuburan, awal mula manusia, atau Dewi Ibu yang dalam budaya Indonesia mungkin seperti konsep Ibu Pertiwi," ungkap dia.

Namun, lanjut Ali, melihat jumlahnya yang relatif banyak yakni seratus lebih, nampaknya batu-batu aneh tersebut lebih berfungsi sebagai penanda individu yang telah meninggal.

"Tipe 1 mungkin untuk penanda perempuan dan Tipe 2 untuk penanda laki-laki. Hal lain yang unik dan menarik adalah letak situs yang berada di punggungan bukit. Dari bukit tersebut dapat melihat laut selatan tanpa terhalang apa pun. Sepertinya ada relasi maya berkonsep budaya maritim antara nenek moyang dan laut yang bersifat transendental. Batu-batu unik seperti sedang berjejer di lereng bukit menghadap atau berorientasi ke laut," tutup dia.
(dra/dra)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed