Mereka yang Memberi Saran Tol Gratis Ketika Macet Parah Saat Mudik dan Arus Balik

Mereka yang Memberi Saran Tol Gratis Ketika Macet Parah Saat Mudik dan Arus Balik

Herianto Batubara - detikNews
Kamis, 07 Jul 2016 06:24 WIB
Mereka yang Memberi Saran Tol Gratis Ketika Macet Parah Saat Mudik dan Arus Balik
Foto: Foto: Kepadatan di Tol Pejagan-Brebes (Arifin Asydhad/detikcom)
Jakarta - Tol atau jalan berbayar banyak dituding menjadi biang macet. Di saat musim mudik lebaran dan sebentar lagi arus balik. Titik utama tak lain antrean pembayaran di gerbang tol.

Sejumlah pejabat dan tokoh memberi saran agar tol digratiskan saat macet parah terjadi. Ini juga sebagai 'ganti kerugian' kepada pengendara yang mesti berlama-lama di ruas tol.

"Waktu di Brebes kemarin saya sudah katakan kalau nanti macet seperti kemarin tol itu lebih baik digratisikan saja, dan itu sudah saya sampaikan anggap aja itu sebagai kompensasi untuk masyarakat karena sudah merasakan macet 3 sampai 6 jam jadi tidak usah bayar," ujar Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Pudji Hartanto saat dihubungi Rabu (6/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pudji tak sendiri memberi saran mengenai tol gratis demi publik itu. Sebelumnya Wakapolri Komjen Budi Gunawan juga memberi pendapat serupa. Dari tinjauan udara terlihat kemacetan di titik exit Pejagan dan Brexit atau Brebes Timur Exit.

"Dari sisi pembayarannya. Mungkin ada jeda-jeda tertentu digratiskan sehingga ada percepatan penarikan serta mengurangi panjangnya macet ini," ujar Budi. "Itu harus dilakukan, kalau tidak ya semakin parah. Masih dikoordinasikan dengan Menteri Perhubungan. Tentunya khusus Tol Pejagan dan Brebes Timur," jawab Budi.

Selain pejabat kepolisian dan Kemenhub, soal tol gratis ini datang juga dari Ketua DPR Ade Komarudin yang sempat meninjau jalur mudik di kawasan Brebes pada Senin (4/7) lalu.

"Harus ada evaluasi pengelolaan jalan tol. Misalnya soal harga bayar pintu tol. Kalau cash, tidak usah ada angka pengembalian. Agar tidak usah menimbulkan kemacetan," ujar politisi Golkar yang akrab disapa Akom. "Titik-titik tertentu yang akan menjadi pusat macet sejak awal dialihkan, atau pintu tol dibuka beberapa jam gratis misalnya," imbuhnya.

Pendapat senada juga diberikan Guru Besar Hukum Tatanegara UGM, Denny Indrayana. Menurut dia, konsep tol perlu dikembalikan ke khittahnya. Tol adalah jalan berbayar tanpa macet. Bukan sebaliknya, tol adalah membayar jalan untuk macet di pintu masuk dan keluar.

"Atau, mungkin cara Meneg BUMN yang lama, Pak Dahlan Iskan perlu dilakukan, pintu tol yang macet, dibuka palangnya, dan kendaraan dibiarkan lewat tanpa membayar, gratis. Khususnya di masa mudik lebaran. Mengapa tidak? Apakah kita perlu menunggu dulu terjadinya kemacetan berpuluh kilo meter, dan beberapa jiwa yang melayang sia-sia karena terjebak macet di jalan tol. Jalan tol adalah jalan lancar, bukan jalan macet, apalagi merengut korban jiwa. Absurd," ujar Denny dalam tulisan kolomnya.

Piha tol sendiri sudah memberi tanggapan. Dirut Waskita Karya M Choliq yang mengelola tol salah satunya ruas Brexit menyampaikan kalau penyebab kemacetan bukan di gerbang tol. Macet di musim mudik ini imbas padatnya kendaraan di jalur Pantura yang memberi pengaruh ke tol.

"Kalau tol disebut sumber macet, tutup saja tol," jelas dia.

Sementara PT Jasamarga yang juga salah satu pengelola tol mengaku siap menggratiskan tol bila kemacetan parah.

"Saya dapat instruksi dari menteri PU, nanti di Cikarang itu pada saat arus balik kalo memang macetnya luar biasa kita loss kan saja, jadi tidak bayar," kata Dirut PT Jasa Marga Adityawarman di kediaman Menteri BUMN, Kuningan, Jakarta Selatan.

Bagaimana menurut Anda pembaca detikcom? (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads