"Sedekah Lebaran dilakukan secara individu tapi dalam sisi persiapannya pelaksanaannya tetap mengusung kebersamaan. Kendurinya harus bersama-sama, secara filosofi gamblang menjelaskan kita tidak bisa hidup sendiri," ujar Ketua Pembina Lembaga Masyarakat Adat Osing (Lemao), Adi Purwadi di kediamannya Desa Kemiren Krajan, Glagah, Banyuwangi, Selasa (5/7/2016).
Sebelum magrib di rumah Kang Pur sapaan akrab Adi Purwadi, tikar hijau sudah digelar dan diatasnya sudah tersaji beragam makanan. Tak hanya makanan, di selatan tikar ada 'ubo rampe' yang terdiri dari pengasepan dan sebuah bantal yang diapit oleh bokor berisi kinang dan kendi kaca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini untuk mengenang leluhur dengan adanya bantal secara keyakinan arwah ini datang dan ada. Oleh karenanya dijabarkan dengan kesukaan leluhur ada kopi, kinangan, kendi berisi air atau buah-buahan kesukaan leluhur," jelasnya.
Malam takbiran Desa Adat Using Kemiren Banyuwangi. Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom |
Tak lama lima orang pria mendatangi rumah Kang Pur dan langsung duduk di tikar. Usai membakar kemenyan, tak lama doa pun dimulai dan dipimpin oleh 'tukang duwo' atau pemimpin doa. Seusai berdoa hidangan yang sudah tersaji pun bisa dinikmati.
"Di sini diijabkan minta kesaksian para hadirin hajatan sedekah lebaran ini memberikan doa pada arwah leluhur supaya mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Untuk yang masih hidup mau anjangsana, silaturahmi ya tentu tidak hanya yang jarak dekat tapi juga yang jauh supaya diberikan keselamatan," jelas Kang Pur usai berdoa.
Dia menjelaskan pemaknaan suku Using dalam merayakan lebaran selalu identik dengan doa memohon keselamatan. Apalagi lebaran merupakan momen berkumpul bersama keluarga.
"Mohon selamat dalam lebaran itu misalnya kita akan ketamuan dan bertamu supaya terjadi suasana yang cair jangan sampai timbul masalah untuk menjalin kekeluargaan dan silaturahmi," tutur ayah satu anak ini.
Dia menambahkan sedekah lebaran dilaksanakan setiap malam Idul Fitri sampai bakda salat Id. Setelah selesai berdoa dan bersantap rombongan ini saling mengunjungi rumah masing-masing dan melakukan kegiatan yang sama.
Malam takbiran Desa Adat Using Kemiren Banyuwangi (foto: Aditya Mardiastuti/detikcom) |
"Dalam sedekah lebaran tentu ada makanan yang disajikan dengan Lauk daging dan masakan lainnya. Kegiatan kenduri ini selesai pindah rumah lainnya, kalau satu kelompok ada 20 orang ya nanti 20 orang itu yang selametan. Nah bisa jadi di rumah yang ketiga dan seterusnya nggak makan," candanya.
Kang Pur menambahkan dalam sajian menu selalu ada ketupat dan makanan lepet. Lepet sendiri terbuat dari ketan yang diolah dengan parutan kelapa muda dan ditambahkan kacang tanah. Rasanya gurih dan manis.
"Sajian ketupat dan lepet jadi simbol salah lepat tetep njaluk selamet," ujarnya.
Usai berkunjung di rumah Kang Pur rombongan melanjutkan perjalanannya. Sementara itu di luar terdengar gema takbir yang riuh berkumandang.
(ams/fdn)












































Malam takbiran Desa Adat Using Kemiren Banyuwangi. Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
Malam takbiran Desa Adat Using Kemiren Banyuwangi (foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)