Suara siung panjang yang khas diperkeras dengan speaker besar yang diletakkan di atas menara kantor PT Timah. Suara inilah yang telah puluhan tahun berjasa kepada warga Pangkalpinang setiap bulan Ramadan.
"Sudah lama sekali siung jadi penanda waktu berbuka. Sejak saya kecil sudah ada, dan kami sangat menantikan itu," kata salah seorang warga Kampung Opas, Pangkalpinang, Herman (32) di Pangkalpinang, Selasa (5/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suara siung dapat terdengar cukup jelas di beberapa daerah yang berada tak jauh dari kantor PT Timah seperti Kampung Opas, Pangkalbalam, Selindung dan beberapa daerah lainnya. Bahkan di daerah yang agak jauh seperti Jalan Muntok dan Jalan Koba, suara siung masih samar-samar terdengar. Sayangnya menurut Lovie, saat ini suara siung tak lagi sejelas dahulu.
"Mungkin karena alatnya sudah tua, radiusnya memang terbatas," ucapnya.
Bunyi siung setiap Ramadan ini rupanya juga dirindukan oleh para warga Pangkalpinang yang merantau di kota-kota lain. Bagi mereka, ada kesan berbeda saat menanti maghrib dengan penanda bunyi siung dari pada hanya sekedar melihat jam atau mendengar azan.
"Saya rindu bunyi siung. Bagi saya, ada sensasi tersendiri saat menanti bunyi siung menjelang berbuka. Ini yang tidak ada di tempat lain," ucap Lani, salah satu warga Pangkalpinang yang merantau di Jakarta selama lebih dari 10 tahun.
Lani baru tiba dari Jakarta pagi tadi. Dia gembira karena masih sempat mendengar siung sore nanti, meskipun hanya sekali dan merupakan siung terakhir pada Ramadan 1437 H ini.
"Semoga tahun depan bisa Ramadan lebih lama di sini, beribadah lebih khusyuk dan mendengarkan bunyi siung saat imsyak dan berbuka. Saya seperti mengenang masa kecil," tutur perempuan yang mengaku selalu merindukan kampung halaman ini. (khf/imk)











































