Berbekal seragam tenaga harian lepas (THL) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), dan 'senjata pamungkas' berupa sepatu boots serta sapu drainase, Nur Hamidah (34) masuk ke Kali Pujasera yang tepat bersebelahan dengan pasar tradisional tersebut.
Ibu dua putra ini beberapa kali terlihat menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika mengangkat sampah hasil produksi pasar dan sampah rumah tangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur Hamidah (34)/Foto: Putri Akmal-detikcom |
Jelang lebaran, di sepanjang aliran Kali Pujasera sejauh 300 meter itu, sampah seperti, popok bayi, dahan kayu kering bahkan bangkai ayam juga kucing, semua tumplek blek dibuang menumpuk berceceran dan sembarangan.
"Sengaja memang sama warga dibuang ke selokan. Bangkai ayam, bangkai kucing, apa saja dibuang di sini. Sampai sampah pampers itu saya ambil dan saya taruh lagi kedepan rumahnya yang membuang," ujar perempuan yang akrab disapa Ida tersebut sambil berjalan menyusuri Kali Pujasera, Senin (4/7/2016).
Beragam upaya terus diupayakan THL DKP Pemkab Banyuwangi agar masyarakat sekitar Kali Pujasera bisa sadar akan pentingnya pola hidup bersih. Semisal, memberi edukasi pemilahan sampah kering dan basah, lalu menyarankan supaya buang sampah pada tempatnya.
Istri Zainul Mustakim itu juga tak segan ketika ia harus menegur keras pedagang atau warga yang kedapatan membuang sampah ke kali. Perempuan berjilbab ini merasa miris dengan sebagian tingkat kesadaran pola hidup bersih orang perkotaan yang ia nilai tidak peduli lingkungan.
Dari teguran keras yang kadang ia lempar, tak jarang juga Ida mendapat olokan bahkan serangan balik dari warga dan pedagang. Meski hingga kini masih banyak dijumpai warga yang membuang sampah sembarangan, Ida tak pernah berhenti menasehati dan memberi edukasi kebersihan pada masyarakat
"Wah..sering bertengkar sama pedagang pasar dan warga yang buang sampah sembarangan, nggak bisa dibilangi. Ya di olok-olok tapi saya nggak peduli, biarin sudah jadi tugas saya. Yaah...sambil buang sampah itu mereka bilang, kan sudah dibayar buat bersihkan sampah ya sudah kerjakan," ceritanya.
"Padahal warga juga sering tak kasih tahu. Sambil nanyain yang buang sampah sembarangan itu. Apakah di rumahnya ada petugas sampah, milah sampah terus ada tempat sampah apa tidak," jelas Ida sambil tertawa geregetan.
Ida sudah mengabdikan dirinya sekitar 5 tahun sebagai THL DKP. Ia tak memiliki jadwal libur, setiap hari ia harus menyapu kali Pujasera sepanjang 300 meter itu mulai pukul 07.00 hingga 10.00 wib.
Nur Hamidah (34). Foto: Putri Akmal-detikcom |
Penghasilan yang ia terima setiap bulan berada di kisaran Rp 650 ribu. Pekerjaan Ida akan semakin berlipat ganda jika mulai memasuki musim penghujan.
Walaupun terkadang harus bekerja keras, Ida merasa bersyukur bisa bekerja. Ia menganggap pekerjaanya yang kotor dan keras ini ialah jalan halal dan mulia.
Meski begitu, Ida tak patah arang. Di siang hari ia bersama suami bertani, mencangkul sawah di ladang warisan milik keluarganya. Menjelang sore hari, ia mengabdikan dirinya untuk mengajar ngaji anak-anak di TPQ Riyadus Sholihin, daerah Keramat Pakem, Kelurahan Kertosari.
Di lingkungan rumahnya itulah, perempuan kelahiran 26 Juni 1982 itu setiap sore menjadi panutan 25 anak-anak dan selalu bersama-sama melafalkan huruf hijaiyah serta ayat suci Al-Quran.
Tak heran jika kerja keras, pengabdian pada masyarakat dan dedikasinya yang sepenuh hati berbuah manis. Dari total 620 THL DKP Banyuwangi, ia terpilih menjadi salah satu petugas yang mendapatkan umroh gratis dari Pemkab Banyuwangi. Ida bersujud syukur lantaran diberangkatkan ke tanah suci tahun 2012 lalu.
Dari penghargaan itulah, ia tak berhenti menyebarkan semangat kepada rekan kerjanya untuk bekerja ikhlas, disiplin dan pantang menyerah.
"Saya orang yang beruntung, nggak punya uang tapi bisa berangkat umrah 2012 lalu karena hadiah dari Pemda. Motivasinya, an-nazhaafatu minal iimaan, kebersihan sebagian dari iman. Mau diolok atau gimana ya gak apa-apa sudah tugas saya. Kerja yang halal, biar sehat, bisa makan. Kalau sehat kan bisa kerja nyenengin anak," imbuhnya.
Di hari menuju kemenangan ini, Ida berharap kepada masyarakat, pedagang dan khususnya para pengguna jalan agar tertib berlalu lintas dan tidak mengotori jalanan.
"Orang nyapu itu membawa harapan supaya kotanya bersih. Kalau tiba-tiba ada yang buang sampah sembarangan, kayak buang pampers, sampah makanan, tiba-tiba plok, itu rasanya... Tapi itu sudah risiko kerjaan saya sih," tutur Ida.
(fdn/fdn)












































Nur Hamidah (34)/Foto: Putri Akmal-detikcom
Nur Hamidah (34). Foto: Putri Akmal-detikcom