Kapolres Jembrana AKBP Djoni Widodo membantah bila terjadi kemacetan di wilayahnya. Djoni menyebut kepadatan kendaraan terjadi akibat antrean untuk masuk ke pelabuhan.
"Kami harap masyarakat bersabar karena ini bukan kemacetan ini antrean. Ini kan kendaraan masih terus bergerak," kata Djoni kepada detikcom, di Pos Pelayanan Terpadu di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Minggu (3/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami jemput bola minta kepada pihak ASDP sejumlah manifes untuk dibagi ke terminal bus-bus, supaya penumpang bisa mengisi data pribadi dengan tujuan sampai pelabuhan tinggal menyerahkan. Kami juga siapkan rest area untuk mengisi manifest, cuma kan pemudik tidak sabar untuk melihat pelabuhan. Kebanyakan melihat pelabuhan seakan sudah melihat Jawa," katanya.
Antrean juga terjadi karena sebelum loket masuk Pelabuhan pihaknya juga melakukan pengecekan surat-surat kendaraan. Djoni menuturkan hal ini dikarenakan untuk menekan angka kriminalitas pencurian atau penggelapan kendaraan bermotor.
"Di Bali banyak rental kendaraan untuk turis dan kita sering menemukan kasus sewa kendaraan di Denpasar kemudian dibawa lari. Maka rental pasti hanya beri fotokopi STNK. Nah kita tidak izinkan kendaraan itu menyebrang," sambung Djoni.
Hal itu dilakukan Djoni demi mencegah maraknya pencurian dan penggelapan kendaraan di wilayahnya. Oleh karenanya sebelum kendaraan itu keluar Pulau Dewata pihaknya memperketat pengawasan.
"Rata-rata kendaraan roda empat karena kalau tidak diperiksa begitu keluar ke Jawa sudah susah. Pemudik yang tidak bawa kelengkapan juga SIM-nya ditilang, kami juga mengecek masa berlaku dan legalitas STNK," sambungnya.
"Kalau kita menemukan STNK yang diragukan kita cek ke samsat online nanti kan keluar datanya. Jenis kendaraan ini dengan STNK ini cocok enggak. Misal ada plat Jatim kita lihat jenis kendaraan ini kok dimiliki Inova padahal ini Honda Jazz," imbuhnya.
Soal antrean panjang kendaraan truk, Djoni menyebut hal itu sebagai kelalaian sopir karena mengantuk. Juga masih banyak truk yang tidak berisi muatan sembako dan BBM beroperasi.
"Antrean panjang karena sopir tertidur tidak mengetahui antrean berjalan. Kadang kita bangunkan dan ingatkan," jelasnya.
"Banyak truk yang tidak mengangkut BBM dan sembako masih beroperasi. Kalau nggak diseberangkan belakang tidak bergerak. Ada juga pengakuan mereka karena Pasuruan banjir akhirnya menunda pulang. Ada juga yqng tahu aturan tapi tidak melaksanakan," paparnya.
Sebab lainnya karena banyak pemudik yang memilih berkendara malam hari. Untuk itu ia mengimbau agar lebih bijak dalam menghitung waktu untuk melakukan perjalanan mudik.
"Pada siang hari kemarin pukul 12.00-17.00 WITa antrean cuma 1 km, begitu menjelang buka puasa hitungan jam sampai sepanjang 5-7 km. Mungkin di benak pemudik lebih nyaman perjalanan malam. Tapi yang terpenting tetap utamakan keselamatan," katanya.
(ams/fdn)










































