DetikNews
Jumat 01 Juli 2016, 15:44 WIB

Pengalaman Seru Safari Ramadan di Milan, Roma dan Vatikan

Salmah Muslimah - detikNews
Pengalaman Seru Safari Ramadan di Milan, Roma dan Vatikan Bukber di masjid Raya kota Roma (Foto: Dok Muhammad Ilyas)
Italia - Tahun ini merupakan kali pertama bagi Muhammad Ilyas menjalani puasa di Italia. Menjalani puasa di negeri orang punya cerita tersendiri, ada kegembiraan dan tantangan yang menambah rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Ilyas pergi ke Italia dalam rangka kegiatan safari Ramadan dan dialog keislaman atas kerjasama Corps Da'I Dompet Dhuafa (cordofa) dan KBRI Roma. Pertama kali dia menginjakan kaki di Bandara Roma Fiumicino awal Ramadan lalu. Dia bertugas mengisi dialog keislaman di kelompok kajian An-nur di kota Roma.

"An-nur merupakan organisasi kecil guna menaungi kegiatan keislaman warga Indonesia yang tinggal di kota Roma dan sekitarnya," kata Ilyas yang merupakan ketua Himpunan Da'i Muda Indonesia 2016 dalam surat elektronik yang diterima detikcom.

Ngabuburit bersama keluarga WNI (Foto; Dok Ilyas)


Menurut Ilyas, puasa di Italia berbeda 180 derajat dengan di Indonesia. Tidak ada nuansa puasa di sana karena Islam merupakan agama minoritas di negeri Pizza.

"Yang semarak justru nobar bila tim nasional Italia main, apalagi kalau menang, hingga tengah malam masih terdengar suara teriakan ekspresi kegembiraan di sini," katanya.

Ujian puasa di musim panas kali ini memang berat, apalagi puasa di Italia lebih lama dibanding di Indonesia. Subuh pukul 03.20, Magrib pukul 20.51 dan Isya pukul 22.30. Tidak terdengar azan yang menandakan kapan waktu salat dan berbuka puasa.

"Kami harus selalu standby dengan alarm atau begadang malam sekaligus menunggu waktu sahur," ucapnya.

Di kota Roma, hanya ada satu masjid yakni Grand Mosque yang dibangun oleh Kerajaan Saudi dan partisipasi negeri-negeri muslim lainya termasuk Indonesia. Di masjid ini setiap hari diadakan buka bersama. Ratusan umat Islam dari berbagai negara setiap hari bisa menikmat takjil berbuka dan santap malam gratis bersama di aula masjid.

"Sesekali kami ke masjid guna menikmati kebersamaan bersama ratusan warga muslim lintas negara. Menu berbuka juga berbeda tiap harinya," kata Ilyas.

Kegiatan Ramadan di KBRI Roma


Selama hari kerja di bulan Ramadan KBRI Roma mengadakan kegiatan diskusi keislaman di musala KBRI. Para diplomat dan staf yang beragama Islam antusias mengikuti kajian dan diskusi lepas Zuhur dari pukul 13.30 hingga 14.45. Ibu-ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan (DWP) secara rutin setiap Rabu, Jumat dan Minggu mengadakan kajian keislaman dan diskusi.

"Sedangkan warga Indonesia, secara rutin setiap hari Minggu mereka kumpul bersama di KBRI Roma untuk mengikuti kajian dan bukber bersama Dubes RI dan para staf KBRI," jelas Ilyas.

Berpose bersama setelah melaksanakan salat Jumat perdana di aula KBRI Roma (Foto: Dok Ilyas)


Menurut Ilyas, meski Dubes August Parengkuan beragama Katolik, dia selalu terbuka dan mendukung agenda keislaman WNI di Italia, khususnya kota Roma. Setiap Jumat sejak awal Ramadan diadakan salat Jumat di aula serbaguna KBRI. Para staf yang muslim dan keluarga mengikuti salat Jumat.

"Warga bersyukur diadakan salat Jumat di KBRI, sebab selama ini salah satu kendala anak-anak mereka yang belajar di sekolah-sekolah lokal Italia tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti shalat jumat karena durasi waktu belajar yang tidak memungkinkan," ungkapnya.

Ilyas mengatakan Ramadan merupakan momentum langka bagi anak-anak dan keluarga Indonesia di Roma. Mereka jarang kumpul bersama, apalagi pada hari masuk sekolah. Selama Ramadan mereka bisa berbuka bersama setidaknya dua hingga tiga kali sepekan di KBRI Roma dan juga di KBRI Vatikan.

"Keceriaan nampak pada wajah mereka dan bermain bersama hingga hampir tengah malam selepas berbuka," kata Ilyas.

Foto: Bersama Dubes August Parengkuan dalam Bukber di KBRI Roma(Foto: Ilyas)


Ramah Tamah WNI di Milan

Di kota markas Inter Milan (Milano) warga Indonesia juga antusias menggelar bukber. Mereka berdiskusi seputar keislaman dan berbagi pengalaman. Bukber juga dihadiri oleh Dubes August Parengkuan dan ibu. Sekitar seratusan warga terlihat antusias dan gembira dengan adanya bukber yang langka ini karena terjadi hanya di bulan Ramadan.

"Sesuatu yang jarang terjadi, kumpul bersama, ngabuburit dan berbagi cerita," ujar Ilyas.

Berpose bersama setelah melaksanakan salat Jumat perdana di aula KBRI Roma (Foto: Dok Ilyas)


Bulan istimewa ini benar-benar momentum bersejarah bagi WNI Muslim di Milan. Seolah tidak mau kalah dengan komunitas warga Indonesia di kota Roma yang memiliki kelompok kajian An-nur, akhirnya mereka sepakat membuat kelompok kajian al-ikhlas. Rencananya akan dilaunching dalam halal bihalal bersama semua warga Indonesia di Milan (lintas agama) bersama Dubes August Parengkuan dan wakil Dubes RI Des Alwi.


Kunjungan ke Vatikan

Sebagai bagian dari kerukunan hidup antar umat beragama, Ilyas dan kawan-kawan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Negara Vatikan dan bertemu dengan Romo Marcus, yang merupakan satu-satunya WNI yang menjadi pejabat Vatikan untuk urusan dialog antar umat beragama.

Berkunjung ke kementrian agama Vatikan (Foto: Dokumen Ilyas)


Hampir satu jam mereka berdiskusi dengan romo Marcus. Tema diskusi tentang hidup damai antar umat beragama dalam membangun bangsa Indonesia dan dunia.

"Hidup damai antar umat beragama telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika membentuk Negara Madina. Kita bisa hidup berdampingan bahu-membahu membangun bangsa Indonesia tercinta. Dalam kunjungan ini kami sepakat untuk memperbanyak dialog antar umat beragama guna mewujudkan hidup damai dalam membangun NKRI tercinta," tutup Ilyas.



(slm/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed