Ozon dan Rumah Kaca Penyebab Kekeringan di NTT
Rabu, 23 Mar 2005 09:13 WIB
Kupang - Kekeringan panjang di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakibatkan gagal panen dan ancaman kelaparan disebabkan menipisnya lapisan ozon, efek rumah kaca dan posisi matahari yang lebih banyak berada di utara Katulistiwa. Keadaan ini menyebabkan temperatur permukaan air laut menjadi rendah dan penguapan menjadi kecil sehingga potensi pertumbuhan awan menjadi sedikit. Intensitas curah hujan di NTT diperkirakan akan terus berkurang kecuali hujan lokal daerah yang memiliki topografi lebih tinggi. "Secara keseluruhan kemarau panjang mulai melanda daerah ini awal Maret 2005 lalu dan baru akan terjadi peluang hujan pada akhir November 2005 mendatang," ujar Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Agus Tjatur Iswahyuanto ketika dihubungi, Rabu (23/3/2005). Menurut Agus, secara teoritis awan terbentuk dari partikel-partikel uap air. Jika penguapan sedikit, partikel yang terangkat ke atmosfir bumi berkurang dan peluang hujan menjadi kecil. Rendahnya curah hujan di NTT juga disebabkan Badai Siklon di Benua Australia yang bergerak ke arah Selatan membuat kecepatan angin bertambah dan memecah partikel uap air yang seharusnya bergerak ke utara dan mencapai NTT. "Kalau kondisi normal seharusnya curah hujan di NTT mulai terjadi akhir November 2004 dan akan mencapai puncaknya pada Februari 2005. Kenyataanya, justru pada Februari lalu kemarau sudah melanda daerah ini," jelasnya. Sejak akhir November 2004 lalu baru terjadi 59 kali hujan di NTT atau rata-rata mencapai 859,7 milimeter. Keadaan ini tidak seperti musim hujan 2004 lalu yang mencapai 90 kali hujan atau mencapai 1275,5 milimeter.
(rif/)











































