DetikNews
Kamis 30 Juni 2016, 17:33 WIB

Cerita Poetoet, Mudik ke Madiun Naik Sepeda Sambil Puasa

Salmah Muslimah - detikNews
Cerita Poetoet, Mudik ke Madiun Naik Sepeda Sambil Puasa Poetoet (tengah) saat mudik 2012 (Foto: Ottoferdinan.com)
Jakarta - Pulang kampung menggunakan mobil, motor atau bus pasti melelahkan, apalagi di musim mudik dengan kemacetan yang panjang. Butuh stamina dan persiapan lebih agar bisa selamat dan sehat ketika sampai di kampung halaman. Lalu bagaimana bila mudik dengan menggunakan sepeda?

Poetoet Soedarjanto, pria berusia 47 tahun ini memilih mengayuh sepedanya dari Tangerang ke Madiun, Jawa Timur. Poetoet bersama dengan kawan-kawan biker memilih menggunakan sepeda dalam suasana puasa untuk pulang ke kampung halaman.

"Saya terinspirasi dari kawan saya Joko yang gowes dari Tangerang ke Ngawi sendirian pada 2011, lalu di 2012 kami berdua start dari Tangerang, dia ke Ngawi dan saya Madiun," cerita Poetoet tentang awal ketertarikannya pulang kampung pakai sepeda.

Menurutnya, tahun ini adalah mudik kelima kalinya dia menggunakan sepeda. Sejak mencoba 2012 lalu, ternyata menyenangkan mudik menggunakan sepeda.

"Rasanya itu asik, makanya sampai 5 tahun ini terus naik sepeda," ujarnya.

Poetoet mengatakan meski dalam kondisi puasa dan panas terik, dia tetap menjalankan puasa. Menurutnya puasa bukan sebuah alasan untuk menjadikan seseorang lemah.

"Yang menarik adalah kita sambil puasa. Puasa itu tidak seharusnya menjadikan kita lemah. Pengalaman saya puasa itu tidak akan mengganggu aktivitas kita selama itu kita punya niat yang kuat," ucapnya.

Poetoet saat mudik tahun lalu (Foto: Ottoferdinan.com)


Poetoet harus menumpuh jarak hampir 800 kilometer selama beberapa hari perjalanan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan disiapkan agar stamina tetap oke dan selamat sampai halaman.

"Pasti cape, lelah, tapi bagaimana kita bisa mengatur agar tidak kelelahan. Kita atur cara bersepedanya, simplenya kita mesti tahu kemampuan fisik kita, kapan harus gowes kapan istirahat. Nutrisi juga disiapkan pas sahur dan buka puasa, selain itu latihan. Saya biasa bersepeda ke kantor 50 kilo setiap hari," paparnya.

"Selain itu yang paling banyak berperan mendukung adalah kawan-kawan dari bike2kampoeng, bike2campus Bandung, Federal Bandung yang sangat membantu dalam pengorganisasian dan merchandise," tambah Poetoet yang juga pengurus pusat Bike2work Indonesia itu.

Poetoet biasanya berangkat dari rumah pagi hari saat matahari belum terlalu menyengat sekitar pukul 06.00 atau 07.00. Dia bersepeda hingga pukul 10.00 WIB.

"Cari masjid istirahat sampai nunggu salat Zuhur, istirahat lagi sampai Asar. Abis Asar gowes sampai Magrib, istriahat terus gowes lagi sampai Isya, jam 8 atau 9 istirahat. Terus sepeda lagi, jam 11 atau 12 istirahat sampai makan sahur," jelas Poetoet.

Butuh waktu 4 atau 5 hari untuk sampai di kampung halaman. Hal ini tergantung kecepatan dan lamanya istirahat selama perjalanan. Selama gowes dari Tangerang hingga Madiun, Poetoet mengatakan tetap melaksanakan puasa dan ibadah lainnya, seperti tarawih.

"Tahun kemarin kami tidak jebol puasanya. Meski naik sepeda tetap diusahkan menjalankan ibadah sunah sambil istirahatin badan," kata Poetoet yang akan mudik Jumat (1/7) besok.
(slm/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed