Jalan tol yang menjadi alternatif ini akan digunakan sebagai jalur 'darurat' mulai dari H-7 hingga H+7 Lebaran. Jalur darurat ini berarti secara keseluruhan masih belum sempurna seperti jalan tol namun dapat difungsikan secara terbatas. Untuk itu pihak PT SoloNgawi Jaya menganjurkan untuk mengaturkecepatannya ketika melintasi jalur ini.
![]() |
"Kami atur kecepatannya. Maksimal 60 km/jam, tapi nanti dari Karanganyer ke Sragen hanya 40 km/jam (14 km menuju akhir jalur alternatif) dikarenakan konstruksi beton yang lebih tipis. Dan juga karena masih banyak pelintasan jalan warga, karena takutnya nanti ada kecelakaan," kata Direktur Utama PT Solo Ngawi Jaya David Wijayatno di area jalur alternatif jalan tol Solo-Ngawi, Boyolali, Kamis (30/06/16).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami siapkan ambulans, kendaraan derek, patroli yang ada setiap setengah jam. Jadi kalau ada yang kesulitan di tengah jalan bisa dibantu," tambahnya.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Basuki Hadimuljono mengatakan meski jalur alternatif ini telah dapat digunakan. Ia menyarankan untuk tidak membuka jalur ini pada saat malam hari. Selain dikarenakan belum adanya penerangan yang memadai, juga masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperhatikan oleh pengguna jalan sehingga tidak terjadi hal-hal yang menghambat jalannya pemudik.
"Masih ada gundukan atau jalan-jalan yang belum merata. Kayak polisi tidur dari lintasan warga. Nggak safe lah kalau malam. Kalau siang saya kira pemandangan bagus kalau orang Jakarta mudik pastinya lebih senang daripada lewat kota," ucapnya di lokasi yang sama.
Sebagai informasi, jalur alternatif Solo-Sragen ini belum sepenuhnya jadi dan hanya dioperasikan secara darurat untuk mengurai kepadatan lalu-lintas di dalam Kota Solo selama arus mudik dan balik. Karena itu penggunaan jalur ini digratiskan dan hanya dibuka pada pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB. (dnl/aan)