Sekitar tahun 2005 Jaelani berjuang memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada masyarakat bahwa peranan pendidikan itu penting. Beragam tantangan Jaelani hadapi sendiri termasuk beragam penolakan, hingga akhirnya masyarakat setuju ada lingkungan belajar di sekitar perkampungan mereka.
"Akhirnya tahun 2006 bangunan pertama berdiri ruangan kelas masih satu beralaskan tanah, pelajaran yang diberikan cuma membaca dan menulis. Murid masih sekitar 20 orang, ya anak-anak kampung situ semua. Biasanya setiap hari mereka ikut orang tuanya berladang, sejak bangunan ala kadarnya itu berdiri mereka rajin datang bahkan sampai diantar orang tuanya," cerita Jaelani pada detikcom, Rabu (29/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaelani masih ingat orang tua murid-muridnya bersukacita mengantarkan anak-anaknya ke sekolah bilik bambu. Tak seperti sekolah formal pada umumnya, tak ada seragam sekolah bahkan ada siswa yang hanya bertelanjang kaki ikut belajar. Kursi dan meja pun bentuknya memanjang, kursi dan meja itu buatan tangan warga yang ingin anaknya sekolah.
"Saya masih ingat satu bangku dan meja panjang dipakai berhimpitan 4 sampai 5 orang anak dan hanya ada beberapa baris saja. Mereka sekolah bawa buku dan pensil, ada yang bawa rantang nasi juga buat makan," lanjut Jaelani.
Kegigihan Jaelani mengajar menginspirasi sejumlah pemuda kampung tersebut, mereka kemudian direkrut Jaelani untuk ikut membantunya menjadi sukarelawan pengajar. Beban Jaelani sedikit diringankan dengan kehadiran para pemuda itu, meski tak ada imbalan mereka tulus memberikan ilmunya ke murid angkatan pertama sekolah bilik bambu.
"Nggak ada bayaran, melihat mereka mau belajar saja sudah kebahagiaan yang gak terukur materi. Begitu juga sukarelawan yang bantu saya, mereka tulus dan ikhlas buat kemajuan pendidikan di kampung mereka," ujarnya.
Kelas bilik bambu (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom) |
Perjuangan belasan tahun yang dilakukan Jaelani akhirnya terbayar, kini genap 6 kelas berdinding tembok beratapkan genting dan beralaskan keramik berdiri megah di sekolah bilik bambu yang kini dinamai SDN Budiasih Bhayangkara. Dukungan kuat dari pimpinannya di Polres Cianjur membuat mimpi dan harapan Jaelani lunas terbayar kontan.
"Teman di Polres Cianjur sampai Kapolres dua kali berganti pimpinan Alhamdulillah semua memberikan dukungan. Sampai sujud syukur saya ketika sekolah tersebut diresmikan, terimakasih tak terhingga untuk tokoh masyarakat dan semua pihak yang sudah mewujudkan harapan saya ini. Saya bahagia, akhirnya anak-anak bisa mengenyam pendidikan yang layak," tandas Jaelani, air matanya mengalir menggenangi pelupuk matanya. (trw/trw)












































Kelas bilik bambu (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)