Kisah Ipda Jaelani, Polisi Pelopor Pendidikan di Kampung Cigaru Cianjur

Kisah Ipda Jaelani, Polisi Pelopor Pendidikan di Kampung Cigaru Cianjur

Syahdan Alamsyah, - detikNews
Rabu, 29 Jun 2016 09:15 WIB
Kisah Ipda Jaelani, Polisi Pelopor Pendidikan di Kampung Cigaru Cianjur
Foto: alamsyah
Cianjur - Perasaan haru dan bahagia menyelimuti Ipda Jaelani, cita-cita dan perjuangannya untuk mendirikan enam ruang kelas permanen untuk sekolah dasar di Kampungnya akhirnya terkabul. Mimpi belasan tahun anggota Polres Cianjur, Jawa Barat itu terbayar sudah setelah pimpinannya AKBP Asep Guntur Rahayu memberikan bantuan.

Peresmian tiga lokal bangunan SD Negeri Budi Asih Bhayangkara, dilakukan pada Selasa (28/6) kemarin.

"Perjuangan yang panjang, dari hanya sekedar bilik bambu beratapkan asbes dan 'siswa' nya cuma belasan anak kemudian berkembang menjadi tiga bangunan permanen dan sekarang akhirnya komplit jadi enam kelas saya benar-benar bahagia akhirnya anak-anak kampung bisa sekolah ditempat yang layak, Allah maha besar," tutur Jaelani mengawali kisah perjuangannya mendirikan sekolah di Kampung Cigaru, Desa Wangunjaya, Kecamatan Naringgul, Cianjur.

Pikiran Jaelani menerawang, mengingat-ingat peristiwa pada tahun 2005 silam. Jaelani yang memang tinggal di kampung itu merasa iba ketika melihat anak-anak di desanya tidak mengenyam bangku sekolah dan memilih bertani dan berkebun bersama kedua orang tuanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Jaelani keterbatasan ekonomi membuat warga di Kampung Cigaru memilih mengajak anaknya pergi ke kebun daripada ke sekolah.

"Penghasilan warga tak lebih dari Rp 500 ribu sebulan, selain masalah biaya lokasi sekolah yang jauh dari perkampungan membuat warga enggan menyekolahkan anaknya. Saya saat itu berfikir keras, bagaimana biar anak-anak ini sekolah," kata Jaelani.

Berbagai cara dan pendekatan dilakukan Jaelani yang saat itu masih berpangkat Brigadir, berbekal kepiawaiannya sebagai Bintara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkantibmas) dia mulai mengajak diskusi warga setempat, persoalan biaya menjadi bahasan utama warga saat itu.

"Akhirnya saya bilang ke warga saat itu, sudah yang punya kayu bawa kayu, yang punya bilik bambu bawa bilik bambu, yang punya paku bawa paku sisanya biar saya yang nanggung, tinggal niatnya mau atau enggak anaknya bisa membaca dan menulis minimal itu dulu," lanjut Jaelani saat itu ke warga.

Akhirnya sebuah bangunan sederhana berdiri, saat itu kondisinya hanya satu ruangan belajar. Bangunan itu digunakan untuk anak-anak di Kampung Cigaru belajar menulis dan membaca.

"Kayak Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dari bilik bambu, saat itu siswa belajarnya hanya 20 anak, saya masih ingat pertama berdiri itu tahun 2005, setiap tahun bangunan kita sekat terus kita tambah satu lokal. Anak-anak yang belajar juga perlahan tambah banyak ada uang swadaya kita bangun lagi satu lokal-ada uang lagi bangun lagi terus aja begitu," ujar Jaelani lagi.

Hingga pada akhir 2014 awal 2015 bangunan bilik tersebut berjumlah 6 lokal kelas, Jaelani meminta bantuan pimpinannya atau Kapolres Cianjur saat itu AKBP Dedi Kusumabakti untuk membantu agar sekolah tersebut bisa didaftarkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.

"Pertama status kita Diakui oleh Dinas ketika itu masih berstatus menginduk ke SDN Puncak Wangi, kemudian meningkat lagi akhirnya menjadi terdaftar dan resmi dinamai SDN Budiasih Bhayangkara," kata Jaelani.

Tak sampai disitu, Kapolres Dedi kemudian memberikan bantuan uang untuk membangun pondasi sebesar Rp 10 Juta. Uang hasil pemberian tersebut oleh warga dikerjakan secara swadaya dan akhirnya berdiri tiga lokal kelas.

"Karena warga yang ngerjain uang Rp 10 juta itu jadi bangunan tembok warga juga ikut semangat ada yang ngikut iuran sampai akhirnya terbangun 3 lokal kelas. Sisanya saat itu masih bilik, sampai akhirnya beralih kepemimpinan ke Pak Kapolres AKBP Asep Guntur Rahayu beliau kembali menambah genap bangunan sekolah kita kini 6 lokal kelas semuanya permanen, Alhamdulillah," ujar Jaelani.

SDN Budiasih Bhayangkara saat ini memiliki siswa lebih dari 200 orang dari kelas 1 sampai kelas 6. Tak hanya warga setempat, beberapa warga di kampung sekitar ikut menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah tersebut. Senyum Jaelani mengembang, perjuangannya akhirnya terwujud berkat kegigihan dan dukungan kuat dari warga dan lembaga tempatnya bertugas. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads