Warga Semarang yang Bayinya Disuntik Vaksin Palsu Harap Mengadu ke Dinkes

Warga Semarang yang Bayinya Disuntik Vaksin Palsu Harap Mengadu ke Dinkes

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 28 Jun 2016 17:42 WIB
Warga Semarang yang Bayinya Disuntik Vaksin Palsu Harap Mengadu ke Dinkes
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi Tinjau Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Semarang Foto: Angling Adhitya P/detikcom
Semarang - Polisi menangkap pasutri yang berperan sebagai distributor vaksin palsu di Semarang. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengimbau warga Semarang yang merasa bayinya disuntik vaksin palsu untuk datang ke Dinas Kesehatan (Dinkes) dan akan mendapatkan vaksin ulang gratis.

Selain mengimbau, Hendrar meninjau langsung gudang vaksin di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Semarang di Jalan Seteran Utara II, Selasa (28/6/2016). Sesampainya di instalasi farmasi tersebut, Hendrar langsung berkomunikasi dengan Kepala Instalasi Farmasi Semarang, Rahayu.

"Kemarin itu kan ramai dua pelaku distributor vaksin palsu ditangkap di Semarang. Ini saya mau cek bagaimana persediaan vaksin di sini, apa sudah dicek semua," kata Hendrar kepada Rahayu, Selasa (28/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahayu menjamin, semua produk vaksin di rumah sakit milik pemerintah kota Semarang asli karena menggunakan e-catalog. "Vaksin palsu kemungkinan diperoleh melalui praktik-praktik mandiri dokter, bukan di rumah sakit pemerintah," kata Rahayu.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi Tinjau Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Semarang (Angling/detikcom)

Hendrar atau yang akrab disapa Hendi itu kemudian meninjau lemari es tempat menyimpan vaksin. Di instalasi farmasi tersebut semua vaksin yang jumlahnya 7 jenis itu ditampung sebelum didistribusikan. Karena itu semua vaksin terjamin keasliannya.

Hendrar mengimbau masyarakat tidak khawatir dengan vaksin yang diberikan oleh rumah sakit milik pemerintah dan jaringan puskesmas. Karena pengadaannya langsung dari pemerintah atau melalui e-catalog.

"Kami jamin vaksin di jaringan puskesmas dan rumah sakit pemerintah asli. Jangan risau dengan vaksin palsu," tegas Hendrar.

Peredaran vaksin palsu sudah terjadi sejak tahun 2003. Maka jika ada orang tua yang ragu, maka diharapkan datang ke Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk berkonsultasi dan akan disediakan vaksin ulang gratis.

"Masyarakat jangan panik. Kalau ada yang ragu karena vaksinnya antara tahun 2003 sampai 2015, segera hubungi dinas, maka kami akan berikan vaksin lagi gratis. Tapi tidak semua vaksin, karena ada yang harus menurut periodenya," terang Hendrar.

Diberitakan sebelumnya, pasutri berinisial T dan M dibekuk tim Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Mabes Polri di sebuah hotel di Semarang pada Senin (27/6/2016) kemarin. Mereka merupakan distributor vaksin palsu dan kasus itu merupakan pengembangan penangkapan pasutri Rita Agustina dan Hidayat Taufiqurahman di Bekasi.

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang hingga saat ini belum menemukan adanya vaksin palsu. Namun BBPOM tetap memperketat pengawasan karena diduga peredarannya melalui jalur ilegal.

Direktur Tipideksus Mabes Polri Brigjen Agung Setya menyatakan, peredaran vaksin palsu sudah di 6 kota yakni Semarang, Yogyakarta, Medan, Jakarta, Jabar dan Banten. 15 Tersangka telah ditangkap dalam kasus ini.

(alg/nwy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini