Shahnaz Fairuz, Dari Bondowoso ke Prancis dengan Perkuliahan Ala Amerika

Shahnaz Fairuz, Dari Bondowoso ke Prancis dengan Perkuliahan Ala Amerika

Salmah Muslimah - detikNews
Selasa, 28 Jun 2016 17:48 WIB
Shahnaz Fairuz, Dari Bondowoso ke Prancis dengan Perkuliahan Ala Amerika
Shanaz Fairuz Balqis/ Foto: Istimewa
Jakarta - Kerja keras, pengorbanan, dan selalu memotivasi diri menjadi kunci dari keberhasilan Shanaz Fairuz Balqis. Perempuan asal Bondowoso, Jawa Timur ini akhirnya bisa menempuh pendidikan di Prancis.

Shanaz lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang sipir penjara yang tegas namun ramah. Sementara ibunya adalah seorang guru.

Shanaz sering menemani ayahnya bekerja di penjara, yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Shanaz belajar tentang kehidupan, terutama membedakan mana yang baik dan buruk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shanaz juga bisa lebih menghargai waktu karena melihat para narapidana yang menyesal dengan perbuatan mereka dan harus hidup terpisah dari keluarganya. Kemahiran Shanaz dalam mengatur waktu sudah terlihat saat di SMP Negeri 1 Bondowoso sebagai angkatan pertama program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Tidak hanya mengikuti pelajaran di kelas, perempuan kelahiran 1994 tersebut juga mengambil kelas tambahan, yaitu bidang fisika dan bahasa Inggris dan bergabung menjadi anggota Organisasi Intra Sekolah (OSIS).

"Saya disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar," kenang penggemar grup band asal Korea Selatan, Big Band, tersebut.

Pada tahun berikutnya, Shanaz berhasil menjadi ketua OSIS dan menyandang predikat juara kelas. Bakat kepemimpinannya terlihat di mana dia berhasil menghilangkan diskriminasi yang muncul karena perbedaan metode antara RSBI dan kelas regular di sekolahnya tersebut.

"Selama saya menjabat sebagai OSIS, saya mampu membawa perubahan, sehingga teman-teman dari RSBI dan kelas lainnya dapat mingle dan bermain bersama tanpa ada batasan kelas RSBI ataupun kelas regular," tandasnya.

Menyadari mempunyai mimpi dan ingin mencari tantangan lebih besar, Shanaz tertarik mendengar cerita dari tiga orang kakak kelasnya di SMP, yaitu Nadaa Ghulam Zakiah, Abdi Pradja Pratama dan Wieka Galih, yang menempuh pendidikan di Sampoerna Academy.

"Hidup hampir 16 tahun di kota kecil seperti Bondowoso bersama orang tua saya rasa sudah cukup. Jika saya tetap tinggal di kota yang sama, berteman dengan teman yang sama, saya merasa pikiran saya kurang berkembang. Saya perlu keluar dari comfort zone saya, untuk melatih kemandirian dan kedewasaan saya, serta mengolah pola pikir saya," kata pengagum Sir Richard Branson, founder dari Virgin group tersebut.

Setelah menempuh pendidikan di Sampoerna Academy, Shanaz pun meneruskan pendidikan di Sampoerna University (dulunya bernama School of Business), di Jakarta, karena adanya program double degree management dengan masa kuliah tiga tahun.

"Saya berpikir, dengan mengikuti program ini, selain saya mendapatkan pendidikan yang lebih baik, saya juga memiliki bargaining power yang lebih, untuk nantinya saya gunakan dalam mencari pekerjaan," ujarnya menambahkan bahwa ia bercita-cita ingin bekerja di Bank Dunia.

Dua tahun pertama, Shanaz menempuh pendidikan di Sampoerna University, yang dilanjutkan dengan setahun pendidikan di IESEG (Institut d'ร‰conomie Scientifique et de Gestion) School of Management, di Lille, Prancis.

IESEG masuk ke dalam Top Ten Best Business School di Prancis dan menempati rangking 21 untuk Program Master in Management Program Worldwide menurut Financial Times. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Shanaz pun langsung mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan bidang finance dan statistik, yaitu personal finance, financial market, risk management in bank, dan econometric intermediate and advance.

Meski harus mengikuti kelas hingga malam hari, Shanaz masih aktif dalam kegiatan berorganisasi dan mendirikan Indonesia Link (I-Link), sebuah asosiasi yang menjadi penghubung bagi mahasiswa Prancis yang ingin belajar atau mengunjungi Indonesia. Selain itu, Shanaz juga menjadi salah satu panitia Euro Olympic 2016, sebuah lomba olahraga bagi pelajar di benua Eropa yang diselenggarakan oleh PPI Prancis, bulan April ini.

Menyebut dirinya sebagai perfectionist, Shanaz merasa bersyukur bahwa kerja keras dan pengorbanannya selama lima tahun belakangan mulai membuahkan hasil.

"Dulu, kamu melihat teman-teman kamu sukses pergi keluar negeri memenangkan lomba dan bersekolah di luar Negeri. Sekarang kamu mampu mencapai semua itu, saya bangga akan saya yang dulu, yang tidak pernah menyesal dan kecewa akan sebuah kegagalan. Saya yang selalu bekerja keras dan memotivasi diri sendiri di setiap saat, tetaplah bersyukur. Work hard in silence let your success make all the noise," tambahnya.

Perkuliahan Ala Amerika

Di Sampoerna University, Shanaz mendapatkan metode pendidikan berbasis science, technology, engineering, art and math (STEAM). Lewat metode pembelajaran STEAM ini tiap mahasiswa akan diberikan materi lintas ilmu dengan mengedepankan kolaborasi kerja, dan kemampuan sosial yang tinggi.

Sistem pendidikan STEAM ini dipercaya dapat memicu mahasiswanya untuk menjadi warga negara penuh tanggung jawab, pemimpin, dan entrepreneur sekaligus.

"Sebagai satu-satunya universitas yang mengadopsi kurikulum Amerika di Indonesia, Sampoerna University menerapkan pendekatan unik, melalui penekanan dasar pada bidang matematika, sains terapan, teknologi, sosial dan kemanusiaan yang mendorong para mahasiswa untuk berpikir kreatif, inovatif, serta mampu berorientasi pada pemecahan masalah," jelas Rektor Sampoerna University Dr. Wahdi Yudhi.

Sistem pendidikan ala Amerika diterapkan di segala aspek perkuliahan. Selain menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kuliah, kelas pun akan diajar oleh banyak dosen dari mancanegara. Penerapan kurikulum digital, serta fleksibilitas untuk berpindah jurusan juga bisa dirasakan mahasiswa. (ega/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads