"Kami sudah turun ke lapangan bersama tim lintas sektor sejak 5 pekan lalu dan di Surabaya khususnya serta di Jatim tidak diketemukan vaksin palsu," tegas Kepala BBPOM Surabaya, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa pada wartawan, Senin (27/6/2016).
Meski sudah dipastikan, pihaknya akan terus mengintensifkan pencarian vaksin balita palsu. Ia juga mengimbau masyarakat membantu dengan jalan meningkatkan kewaspadaan dengan meningkatkan kecermatan dan ketelitian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk intesifikasi, direncankana akan berlangsung selama 8 pekan dan ini berlangsung sudah pekan ke 5. Mulai dari Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Gresik, Sidoarjo, Batu, Malang, Ponorogo dan kota Surabaya.
Kepastian Surabaya dan Jawa Timur bebas dari vaksin palsu juga ditegaskan Dinas Kesehatan Surabaya. Kepala seksi kefarmasian Dinkes Surabaya, Umul Jariyah membenarkan bila pihaknya telah melakukan penelitian.
"Vaksin Surabaya didapat dari pusat dan langsung kami distribusikan ke puskesmas, klinik berijin dan rumah sakit. Mereka juga melaporkan setiap bulan nama dan alamat," tegas Umul.
Keberadaan vaksin palsu untuk balita dibongkar oleh Sub Direktorat Industri dan Perdagangan Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri beberapa waktu lalu.
Pihak penyidik memastikan bila vaksin palsu tersebut telah beredar di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Tidak menutup kemungkinan, seluruh Indonesia telah menyebar vaksin palsu karena berdasarkan penyidikan diketahui produksi cairan untuk kekebalan tubuh bagi balita tersebut sudah sejak 2003 lalu. (dnu/dnu)











































