Berkah Ramadan Bagi Ali, Pengusaha Songkok Putih yang Sukses karena Kepepet

Berkah Ramadan Bagi Ali, Pengusaha Songkok Putih yang Sukses karena Kepepet

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 27 Jun 2016 12:52 WIB
Berkah Ramadan Bagi Ali, Pengusaha Songkok Putih yang Sukses karena Kepepet
Ali Ghuforn memantau pekerjanya (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)
Banyuwangi - Bulan Ramadan menjadi berkah bagi Ali Ghufron (45), pengusaha songkok putih di Banyuwangi. Songkok putih produksinya selalu laris. Sampai-sampai stok di rumah tempat produksinya habis.

"Pengiriman setiap minggu kadang 6-7 ribu kadang 10 ribu itu ke Surabaya dan Jakarta. Menjelang Hari Raya nggak terukur (penjualannya) sampai habis kadang 20 ribu. Bulan Ramadan ini permintaan meningkat tapi produksi kami menurun karena puasa," ujar Ali saat ditemui di rumah sekaligus rumah produksinya di Tebu Indah, Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, pekan lalu.

Foto: Aditya MT/detikcom

Industri rumahan itu berdiri di lahan seluas 700 meter persegi. Lahan itu terbagi menjadi tiga bangunan yaitu bangunan untuk jahit dan mencuci songkok, kedua bangunan untuk proses press dan terakhir untuk proses packing. Industri ini berada satu kompleks dengan rumah yang ditinggalinya bersama keluarga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ali menjelaskan songkok miliknya memiliki kekhasan kalbut batok karena memiliki tekstur yang keras dan kaku. Saat ditanya bagaimana dia merintis usahanya, dia mengaku belajar membuat songkok secara otodidak.

"Ya karena kepepet dan butuh uang. Otodidak, di sini kan banyak yang buat songkok sering tanya ke temen-temen, cuma cara manajemen produk yang kita majukan," ujar pria yang sudah sepuluh tahun menjalankan usahanya ini.

Foto: Aditya MT/detikcom

Pria yang memakai baju koko putih, sarung dan lengkap dengan kopiah putih saat ditemui ini, kemudian menjelaskan proses produksinya. Untuk mendapatkan satu songkok putih itu, Ali menyebut ada 9 proses yang harus dilalui.

"Usaha saya ini produksi selama 24 jam dengan sistem shift. Anak-anak juga dibayar dengan sistem borongan. Satu songkok itu dikerjakan sembilan orang, ada yang motong kain, jahit, press (setrika), sambung, cuci dan proses packing. Masing-masing sendiri," katanya.

Foto: Aditya MT/detikcom

Untuk upah yang diberikan kepada karyawannya dia mengklaim memberikan gaji yang lebih tinggi dibanding tukang bangunan. Hitungan upah dia bedakan dari tingkat kesulitan yang dikerjakan karyawannya.

"Beda-beda kesulitannya, mulai dari Rp 70-450 per biji. Yang kita ukur kecepatan dan semakin rajin ya upahnya banyak karena per hari satu orang bisa mengerjakan puluhan sampai ratusan songkok," katanya.

Ali mengaku usahanya tak melulu manis. Dia menyebut usahanya pernah jatuh. Tadinya dia sempat mengekspor songkok produksinya ke Turki dan Arab. Sejak beberapa bulan lalu dia mengaku terpaksa mengurangi jumlah karyawannya dan mengurangi upah.

Foto: Aditya MT/detikcom

"Hal itu demi kesehatan cash flow saya juga, agar bisa tetap berdiri dan yang penting tetep produksi. Contohnya upah press tadinya Rp 550/ biji kini saya mampunya Rp 450/ biji. Kemarin saya juga sempat mengurangi separuh karyawan saya karena pasar lemah, dolar tinggi dan kita produksi terus," ungkapnya.

"Sementara bahan baku kita itu plastik dan harus impor. Seperti biasa hambatan pengusaha kan modal, akhirnya karyawan jadi korban dan saya lorot (kurangi) 50 orang. Nanti kalau sudah sehat baru ditarik lagi," katanya.

Foto: Aditya MT/detikcom

Meski begitu salah satu karyawan Ali yang bernama Andi (25) mengaku masih puas dengan upah yang dia peroleh meski upahnya sempat dipotong sebesar Rp 100/ biji. Pria bertato ini lebih memilih bekerja di bagian press dengan berat setrika 50-60 kg dan berpanas-panas dengan setrika ketimbang harus menjadi kuli.

"Masih enak kerja di sini daripada nguli kesel (capek). Sehari saya bisa kerjakan 200-250 biji. Kerjaannya gini aja, nggak ada ikatan jam kerja, sehari delapan jam. Dulu saya kerja di Bali di bagian finishing sekarang udah nggak mau lagi," kata pria sejak usia 15 tahun sudah merantau ini. (ams/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads