"Kita nggak pernah lihat ada mobil boks atau mobil barang dari dulu. Paling ada orang sering datang ke rumahnya bawa motor. Hampir setiap hari ada orang ke rumahnya," ujar Marihat Sialoho kepada detikcom. Marihat adalah tetangga Hidayat-Rita di Kemang Pramata Regency, Bekasi, Minggu (26/6/2016).
Pasutri yang ditangkap polisi (Istimewa) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diduga orang bermotor yang sering ke rumah pasutri tersebut adalah kurir yang bertugas membawa vaksin palsu ke distributor. Dalam penggeledahan di rumah Rita-Hidayat pada 21 Juni malam, polisi membawa tersangka S yang berperan sebagai kurir. S berperan sebagai penunjuk rumah Rita-Hidayat.
Dalam kasus vaksin palsu, polisi membekuk tiga jaringan yang tidak saling kenal. Jaringan ini terdiri dari produsen, distributor dan kurir. Setidaknya 12 orang telah diciduk. Pengungkapan kasus vaksin palsu bermula pada penangkapan tersangka J yang diduga direktur CV Azka Medical di Bekasi yang menjual vaksin palsu ke pasaran. Lalu berturut-turut penangkapan dilakukan pada 21-22 Juni (Selasa-Rabu) di enam lokasi yang berbeda seperti di Puri Bintaro Hijau (Tangsel), S di Bekasi Timur, dan pasutri Rita-Hidayat di Kemang Pratama.
Marihat yang kenal dekat dengan Hidayat melihat pasutri tersebut sebagai orang yang ramah. "Ramah, tapi memang jarang mau ikut komunitas, jarang gabung. Tiap Sabtu kan jalan kaki bersama, tapi enggak pernah ikut," kata Marihat.
Marihat menuturkan Hidayat hanya bersedia berbicara dengan dia. Bahkan Marihat pernah ditawari agar membeli rumahnya, meski tak jadi.
"Dia juga pernah berencana jual rumahnya ke kita dua bulan lalu. Nah karena kita enggak tahu persis kualitas bangunannya, ya kita enggak mau. Dia kan baru tiga tahun juga tinggal di situ," kata dia.
Keluarga Hidayat akrab dengan Marihat, namun keluarga Hidayat pernah ribut dengan tetangga sebelah rumahnya. "Dia cuma mau ngomong sama kita, enggak terlalu akur sama tetangga sebelah. Ribut sudah lama, makanya kita shock juga (saat keduanya dicokok polisi pada 21 Juni)," kata Marihat.
Satpam perumahan elite itu, Eko, menuturkan, Hidayat dan Rita jarang terlihat di rumah pada akhir pekan. Mereka biasanya ke luar rumah, maka interaksi dengan tetangga di akhir pekan menjadi jarang.
"Yang pasti, Sabtu Minggu itu mereka enggak pernah ada di rumah, selalu keluar, hampir setiap akhir pekan sekeluarganya itu pergi. Kadang banyak yang tanya juga sih kok pergi-pergi terus, ya cuma karena enggak terbuka ya akhirnya semua tetangga cuek juga," tutur Eko. (dnu/nrl)











































Pasutri yang ditangkap polisi (Istimewa)