Mengecek Jalur Mudik: Mendengar Pengakuan Pedagang di Pantura Setelah Cipali Dibuka

Mengecek Jalur Mudik: Mendengar Pengakuan Pedagang di Pantura Setelah Cipali Dibuka

Ahmad Masaul Khoiri, - detikNews
Jumat, 24 Jun 2016 14:42 WIB
Mengecek Jalur Mudik: Mendengar Pengakuan Pedagang di Pantura Setelah Cipali Dibuka
Foto: Masaul/detikcom
Subang - Arus mudik via jalur Pantura membawa rezeki tersendiri bagi pedagang musiman. Pembukaan Tol Cipali setahun lalu tepatnya Juni 2015, ternyata membawa dampak tidak mengenakkan bagi pedagang musiman di jalur Pantura.

Pedagang musiman yang hanya berjualan minuman dingin, rokok, dan camilan seadanya tersebut mengaku sangat merugi saat dibukanya Tol Cipali. Pendapatan mereka selama mudik lebaran turun drastis karena jalur Pantura sepi pemudik.

"Sepi sekarang, omzet jauh semenjak dibuka Tol Cipali. Saya tiap hari menjelang lebaran selalu jualan. Jualan dadakan pada rugi semua. Biasanya ngandelin mobil pribadi yang lewat, sekarang hanya motor dan itu pun jarang berhenti, paling pemotor berhenti di toko," ujar Suparno (25), warga Desa Kebondanas, Kecamatan PusakaJaya, Subang, Jawa Barat kepada detikcom, Jumat (24/6/2016) di depan rumahnya.

"Kalau saya lagi dagang dapat lumayan juga. Itu dulu," sambung dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Suparno, berdagang setelah dibukanya Tol Cipali bahkan tak bisa mengembalikan modal awal. Dahulu sebelum Cipali dibuka, dalam seminggu berjualan, kata dia bisa mendapatkan keuntungan jutaan rupiah

"Semenjak tahun kemarin sepi yang mampir. Kalau dulu keuntungannya bisa dua kali lipat. Sekarang balik modal aja sulit. Jadi sangat berpengaruh. Kalau jualan mudik paling lama seminggu sebelum lebaran dan dulu itu sampai Rp 2 juta dan sekarang cuma Rp 200 ribu," kenang Suparno.

Hal senada juga diungkapkan oleh Suleman (55). Ia mengaku tidak terlalu berharap apa-apa lagi sama jualan saat mudik. Menurut dia yang paling penting adalah kelancaran bagi pemudik.

"Karena kita kasihan dulu ada yang 7 hari cuma di Pantura. Bahkan ada yang satu minggu lebih. Berjam-jam macetnya sebelum ada Tol Cipali," ujar Suleman.

"Sekarang mudik 2 hari ramainya dan nggak macet. Itu pun didominasi pemotor," sambung dia.

Suleman yang juga penjaga parkir masjid Desa Kebondanas, menceritakan bahwa selain jualan saat mudik yang sepi hal tersebut juga berpengaruh pada infaq masjid yang berkurang. Karena pemudik yang berhenti di masjid juga ikutan turun.

"Saya itu sudah jualan mudik selama 5 tahun. Sekarang sih nggak ngarepin mudikan. Pengendara biasanya berhenti di masjid ikut sepi, infaq masjid pun ikut turun," ujar Suleman.

Suleman menceritakan, bahwa dulunya banyak warga Kebondanas yang berjualan saat musim mudik. Sepanjang jalan Pantura yang melewati desanya penuh penjual.

"Mereka kan awam nggak tahu kapan Cipali buka. Mereka sama jualannya makanan minuman dingin gitu. Akhirnya merugi," pungkas Suleman.

(dra/dra)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini