Pantauan detikcom, Kamis (23/6/2016), spanduk-spanduk penolakan terpasang mulai dari Jalan Pangkalan 5 menuju TPST Bantargebang. Sejumlah spanduk mengatasnamakan warga yang menolak pengelolaan TPST Bantargebang secara swakelola.
"Warga kelurahan Sumur Batu, Kelurahan Ciketing Udik, Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Bantargebang-kecamatan Bantargebang Kota Bekasi MENOLAK Pengelolaan TPST Bantargebang secara Swakelola," begitu bunyi salah satu spanduk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spanduk penolakan sampah kiriman dari Jakarta di TPST Bantargebang, Bekasi, Kamis (23/6/2016). Foto: Aditya Fajar Indrawan-detikcom |
Spanduk lainnya bertuliskan tentang penolakan sampah yang berasal dari Jakarta. Dalam spanduk itu mereka menilai sampah dari Jakarta telah melebihi beban yang sudah disepakati.
"Tolak Sampah Jakarta. Target 2016 = 2.000 Ton/hari. Nyatanya Mei 2016 = 7.000 Ton/hari. Mana TPST Marunda dan TPST Durikosambi? Audit, audit, audit TPST Bantargebang. Mana TPST Cilincing-Cakung. Audit semua TPST/IFT di Jakarta. Tolak Sampah Jakarta," tulis di spanduk berlatar hitam itu.
Diberitakan sebelumnya sejumlah orang 'berunjuk rasa' di jembatan timbang pintu masuk TPST Bantargebang. Kasubag Humas Polres Bekasi Kota Iptu Evi menyebut unjuk rasa dilakukan karena mereka memprotes kelebihan muatan sampah yang dikirim ke Bantargebang. (adf/fdn)












































Spanduk penolakan sampah kiriman dari Jakarta di TPST Bantargebang, Bekasi, Kamis (23/6/2016). Foto: Aditya Fajar Indrawan-detikcom