Berkenalan dengan Dokter Muda yang Mengabdi untuk Tuntaskan Malaria di Papua

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 23 Jun 2016 06:16 WIB
dr Andries bersama anak yang orangtuanya sedang dirawat di RS. Foto: Dok. Pribadi
Timika - Terbiasa hidup di ibu kota tidak membuat dr Benediktus Andries takut untuk bertugas di daerah. Keinginannya untuk mengabdi bagi masyarakat yang membutuhkan, membuat dokter muda ini mengangkat kopernya ke Tanah Papua.

Masih berusia 27 tahun, pria asal Bogor ini sudah memilih bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika di Kabupaten Mimika, Papua. Ada semangat yang terpancar dari dr Andries dan tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Pusat Penelitian Malaria Timika berada di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika dan merupakan kerja sama antara RSMM dengan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPMKP). Saat detikcom berkesempatan berkunjung ke Malaria Research Fasility pada Sabtu (18/6/2016), Andries sedikit bercerita tentang kisah hidupnya.

dr Andries masih berusia 27 tahun dan bercita-cita mengambil spesialis dokter anak
"Saya awalnya bekerja sebagai dokter umum di RSMM selama satu tahun. Lalu saya resign karena tadinya mau ambil spesialis di UGM," ungkap lulusan Universitas Atma Jaya Jakarta itu.

Karena belum bisa masuk, Andries akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di Timika namun bergabung pada penelitian Malaria. Selain untuk kemanusiaan, dokter muda asal Bogor ini ingin belajar lebih banyak pada mentornya, dr Jeanne Rini Poespoprodjo yang merupakan pimpinan di YPMKP.

"Soalnya beliau menginspirasi. Dosen terbang UGM, dan dokter spesial anak dia di RSUD. Saya sekarang lagi belajar sama beliau. Tapi saya bekerja pada penelitian ini atas keinginan sendiri," kata Andries.

Bungsu dari dua bersaudara ini menyatakan tertarik terlibat pada pusat penelitian tersebut karena penyakit Malaria di Indonesia paling banyak ditemukan di Papua, terutama Timika. Andries pun sudah terbiasa bekerja jauh dari hingar bingar ibu kota karena begitu lulus, ia mengikuti program internship selama satu tahun di Pulau Sumbawa. Tepatnya di Dompu, NTB.

Andries bersama tim di Pusat Penelitian Malaria Timika
"Saya keinginan sendiri. Malaria itu parasitnya yang paling seksi untuk diteliti memang di Timika. Angka Malaria nomor 1 di Indonesia itu di Papua. Timika di Papua. Tapi Malaria di Papua sempat menurun selama satu dekade berdasarkan laporan Kemenkes. Salah satunya disebabkan karena terobosan-terobosan dan peran Yayasan," ucapnya.

Ada berbagai penelitian yang dilakukan di Pusat Penelitian Malaria Timika itu. Project-project penelitian juga dibagi oleh beberapa tim. Beberapa penelitian yang dilakukan seperti pengujian akan resistensi obat Malaria yang umum dipakai bagi penderita, dan juga pengujian terhadap ibu hamil yang menderita malaria. Penelitian ingin melihat bagaimana dampaknya terhadap sang anak jika sudah dilahirkan.

Lantas sebenarnya mengapa Andries memilih untuk bekerja di Timika di saat tak banyak dokter yang mau ditempatkan di ujung timur Indonesia?

"Hakikatnya dokter ya untuk membantu dan memberi yang terbaik untuk masyarakat. Saya ingin segera mengaplikasikan ke masyarakat secepat mungkin dari ilmu yang saya dapat. Saya besar sudah di ibu kota, sementara Papua cukup terkenal dengan masalah kesehatan, butuh banget tenaga kesehatan, dan nggak banyak yang mau datang," jawab Andries.

dr Andries bersama anak yang orangtuanya sedang dirawat di rumah sakit
"Sebagai dokter dan manusia, itu panggilan bagi saya. Banyak persebaran dokter yang tidak merata," lanjutnya.

Andries tak menyebut bahwa rekan-rekan seprofesinya ogah untuk mengabdi di daerah yang jauh atau di pelosok. Banyak kasus terjadi ada dokter yang mau ditugaskan di daerah namun tidak memiliki kesempatan. Ia pun bersyukur memiliki kesempatan itu.

"Saya mau dan dapat kesempatan itu. Saya begitu lulus, langsung bisa mengaplikasikan ilmu saya untuk membantu masyarakat, itu suatu hal yang patut disyukuri," tutur Andries.

"Kita merasakan banget effect penelitian ini. Perannya besar, dulu sehari bisa beberapa orang meninggal, sekarang sudah berkurang. Dari sisi pengobatan juga. Tapi saya tidak katakan bahwa faktor satu-satunya karena pusat penelitian ini, sebab kami juga banyak berkolaborasi dengan beberapa pihak lain ya. Tapi memang perannya cukup besar. Saya pegang 4 project," imbuh dia.

Di saat banyak orang muda di usianya memilih untuk bekerja di tengah kehidupan metropolitan, travelling, atau hal-hal glamor, tidak demikian dengan Andries. Tujuan hidupnya adalah berbuat sebanyak mungkin untuk masyarakat melalui ilmu yang dipunya. Untuk bisa berbuat lebih banyak lagi, pria kelahiran 30 Agustus 1988 tersebut ingin meningkatkan kemampuannya.

Andries siap kembali bersama tim peneliti jika kelak telah merampungkan pendidikan spesialis
"Saya berencana mau ambil sekolah lagi, biar ada keilmuan lebih sehingga bisa memberi lebih banyak untuk mereka. Saya pingin ambil spesialis anak," ujarnya.

Saat nanti Andries kembali ke bangku kuliah untuk mengejar spesialisnya, ia terpaksa meninggalkan penelitiannya. Menurut dia hal tersebut tidak masalah karena penelitian sudah pasti akan terus berjalan. Ketika pendidikan spesialisnya usai dilakukan, ia juga tak segan untuk kembali ke Timika.

"Ini daerah yang saya familiar, kalau memang nantinya masih dibutuhkan, saya dengan senang hati akan kembali," tegas Andries.

Sebenarnya tak banyak harapan Andries melalui pekerjaannya. Ia bahkan sampai rela mengorbankan kehidupan pribadinya dengan satu tujuan mulia, khususnya bagi masyarakat Papua.

"Saya ingin melalui penelitian ini, goalnya Timika bebas dari Malaria. Papua bebas dari Malaria, dan harapannya adalah se-Indonesia bebas Malaria. Tapi segala sesuatu harus dimulai dari hal paling terkecil dulu kan?" tutup Andries mantap. (elz/jor)