Mentor Teman Ahok Soal Barisan Sakit Hati: Jangan Percaya Mantan

Mentor Teman Ahok Soal Barisan Sakit Hati: Jangan Percaya Mantan

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 23 Jun 2016 00:51 WIB
Mentor Teman Ahok Soal Barisan Sakit Hati: Jangan Percaya Mantan
Mantan relawan Teman Ahok yang disebut sebagai barisan sakit hati. Foto oleh: Rachman Haryanto/detikcom
Jakarta - Mantan relawan Teman Ahok memaparkan ada manipulasi dibalik pengumpulan KTP dukungan oleh Teman Ahok. Salah satu mentor Teman Ahok Hasan Nasbi menyebut perkataan eks relawan itu tidak bisa dipercaya.

"Mantan dijadikan referensi itu bagaimana. Mantan pasti ngomong yang jelek-jelek lah. Kalo nggak ya nggak jadi mantan. Kalau mau kejujuran, mau ngomong kebenaran, kebaikan, jangan referensinya orang yang pernah berbuat tidak jujur," ujar Hasan Nasbi, di kantornya, Graha Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (22/6/2016).

"Orang yang dikeluarkan dari organisasi karena setor KTP bodong, kan dia mengaku sendiri melakukan itu, itu keterlaluan itu," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan tidak bisa kelompok yang telah berbuat kecurangan dijadikan sumber untuk mengungkap kebenaran. Hal itu karena terlihat dari pengalamannya saat melakukan kecurangan yang diakui saat mengumpulkan KTP dukungan.

Hasan juga mengatakan ada ormas yang berada di belakang kelompok barisan sakit hati tersebut. Menurutnya ada beking dari ormas di balik aksi mantan relawan Teman Ahok itu. Ormas ini disebut-sebut ada kaitannya dengan partai politik.

"Ini kan ada informasi juga ada ormas yang ada di belakamgnya. Buat saya demokrasi kita harus dibangun lewat kompetensi, bukan saling menghancurkan. Jadi kalau mau rumah yang bagus itu motivasi kerja yang bagus, kompetitif bukan membinasakan. Kalau nggak politik kita mati gaya kalausistemnya iri-irian gitu," ujar Hasan.

Ia memiliki tiga teori terkait aksi eks pengurus Teman Ahok mau membuat pengakuan terkait pengumpulan KTP bodong dan anggaran dana Teman Ahok yang akhirnya dibantah Teman Ahok. Menurutnya, ada beberapa motif dibalik tindakan orang tersebut. Yakni niat untuk menghancurkan Teman Ahok, memisahkan Teman Ahok dan membuat Ahok tidak percaya dengan Teman Ahok, atau apakah ingin menekan supaya Ahok bisa segera merapat ke partai. Ia belum memastikan ke mana arah tudingan itu melesat.

"Nggak tahu, bisa saja semuanya. Sama saja peluangnya tapi ujungnya mendeskreditkan gerakan anak muda ini. Anak muda yang sangat bergairah ikut berpartisipasi dalam politik yang gairah ini belum pernah saya lihat di Indonesia dan dicoba dihancurkan dengan anak muda yang lebih senior," ujar Hasan.

Menurut Hasan yang juga berperan sebagai Chief Executive Officer (CEO) Cyrus Network, relawan Teman Ahok ini pada awalnya sering berkonsultasi kepadanya. Ia mengaku relawan Teman Ahok ini bermental tangguh ketika mencoba mengklarifikasi berita yang ada beberapa hari ini.

Sebagai senior Teman Ahok, Hasan mengaku tidak jarang memberikan saran kepada anak-anak muda di Teman Ahok. Namun pada pemberitaan yang santer menyebut aliran dana sebesar Rp 30 M dari pengembang reklamasi melalui Sunny yang notabene dekat dengan Ahok itu, Hasan mengatakan tidak ada konsultasi antaranya dengan relawan Teman Ahok.

"Ya kita lebih jadi mentornya di awal-awal lebih intensif ya kalau sekarang sih sudah jarang, tadi mereka konferensi pers nggak ketemu saya," ujar Hasbi. (elz/elz)


Berita Terkait