Banyak Pemimpin Negara Anggota Tidak Hadiri KTT Arab

Banyak Pemimpin Negara Anggota Tidak Hadiri KTT Arab

- detikNews
Selasa, 22 Mar 2005 17:01 WIB
Jakarta - Sebagian besar pemimpin Arab tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab yang akan dibuka di Aljazair pada Selasa (22/3/2005) waktu setempat. Bahrain, Oman dan Yaman, Senin (21/3/2005) kemarin mengumumkan bahwa kepala negara mereka tidak akan menghadiri KTT Arab, yang bertepatan dengan peringatan 60 tahun organisasi pan-Arab tersebut. Dari 22 negara anggota Liga Arab, hanya 14 kepala negara Arab yang akan menghadiri pertemuan puncak tersebut.Ada sekitar 17 poin agenda yang akan dibahas dalam konferensi tersebut. Diantaranya adalah menghidupkan kembali rencana damai dengan Israel yang ditolak negeri Yahudi itu tiga tahun lalu. Demikian seperti diberitakan situs Aljazeera.com, Selasa (22/3/2005). Raja Bahrain, Tuanku Hamad bin Isa Al Khalifa, telah mengutus putranya, Pangeran Shaikh Sulman bin Hamad Al Khalifa, untuk mengikuti pertemuan yang akan digelar selama dua hari itu. Demikian dilaporkan kantor berita resmi Bahrain, BNA, tanpa menyebutkan alasan ketidakhadiran raja dalam konferensi.Begitu pula dengan Sultan Qaboos bin Said dari negara Oman, yang mengirimkan Deputi Perdana Menteri Urusan Kabinet, Sayed Fahd bin Mahmoud Al Said, untuk mewakili dirinya dalam KTT Liga Arab tersebut.Adapun Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh hanya mengatakan bahwa dirinya tidak akan hadir karena adanya "tanggung jawab" lain. Ia pun mengutus Wakil Presiden Abed Rabbu Mansour Hadi untuk mewakili dirinya.Selain itu, Raja Yordania, Presiden Libanon dan Amir Kuwait juga telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan datang ke pertemuan tersebut. Sementara para pemimpin Arab yang akan hadir termasuk Presiden Libya, Muammar Gaddafi dan Presiden Suriah Bashar Al Assad. Sejumlah petinggi asing juga akan hadir dalam sesi pembukaan, termasuk Sekjen PBB Kofi Annan, Menteri Luar Negeri Michel Barnier dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Javier Solana.Isu-isu penting lain yang akan dibahas mencakup situasi politik di Irak, kekerasan yang terus berlangsung di wilayah konflik Darfur di Sudan dan konflik di Somalia. (ita/)


Berita Terkait