Takmir Masjid Roudhotuljannah, Desa Tlogosadang, membagi-bagikan puluhan bungkus cabai rawit gratis kepada pengguna jalan. Bagi-bagi takjil ini dilakukan selain sebagai aksi sosial, tetapi juga sebagai aksi protes masyarakat Desa Sadang yang mayoritas menanam cabai.
Takmir Masjid Roudhotuljannah, Desa Tlogosadang, Sutomo, kepada wartawan mengatakan, bagi-bagi takjil berupa cabe ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada sesama karena petani Desa Sadang sedang panen raya cabai. Aksi ini juga dilakukan sebagai bentuk sindiran kepada pemerintah atas rendahnya harga cabai saat musim panen raya tiba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Eko Sudjarwo/detikcom |
Diungkapkan oleh Sutomo, sebanyak 300 kepala keluarga dari 470 KK di Desa Sadang ini petani cabai dan aksi bagi-bagi cabe ini sebagai bentuk keprihatinan karena cabai hanya dihargai Rp 3.000 per kilo. Lebih lanjut, ia menambahkan, di samping di bagikan ke penguna jalan, takjil cabai rawit yang dibungkus dalam kemasan setengah kilogram ini juga diberikan kepada anak yatim dan warga miskin di Desa Sadang dan desa-desa sekitarnya.
"Dengan harga segitu, jadinya petani rugi banyak," urainya.
Satu di antara penguna jalan yang kebetulan melintas di jalur Deandles Paciran, Siti Basri mengaku tak menyangka takjil yang dibagikan berupa cabai rawit. "Saya kira dapat takjil gratis makanan, eh gak tahunya kok cabai," akunya.
Walaupun tak mendapat takjil berupa makanan siap santap saat waktu berbuka puasa tiba, Siti tetap terlihat sumringah. "Gak apa-apa dapat takjil cabai, nanti bisa buat masak buka dan sahur," pungkasnya. (fat/try)












































Foto: Eko Sudjarwo/detikcom