Konflik Sesama Pengurus, Kantor PB HMI Dijual

Konflik Sesama Pengurus, Kantor PB HMI Dijual

- detikNews
Selasa, 22 Mar 2005 16:39 WIB
Jakarta - Konflik di tubuh organisasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) terus berlanjut. Kabar terbaru dari kantor HMI Dipo, sebutan untuk HMI yang berkantor di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat ini, kantor tersebut dijual oleh pemiliknya.Tak heran jika sedang lewat di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat terdapat beberapa spanduk yang dipasang. Di antaranya berbunyi "Sekretariat PB HMI tidak akan pernah dijual selama Islam berada di Indonesia", spanduk lainnya bertuliskan "Batalkan penjualan sekretariat tanpa ada kesepakatan cabang di forum kongres".Kabar yang beredar di kalangan pengurus HMI, penjualan kantor terkait dengan konflik antarsesama pengurus HMI yang saat ini terbelah kepengurusannya. Yakni HMI di bawah kepengurusan Ketua Umum Hasanudin dan pengurus HMI di bawah kepengurusan Sahmud Ngabalin. Situasi konflik antara kubu Syahmud Ngabalin dan Hasanudin dimanfaatkan oleh ahli waris pemilih kantor untuk menjualnya ke pihak lain. Sebagai gantinya, pemilik kantor menawarkan ruislag kepada pengurus HMI."Setahu saya, Hasanuddin menyetujui penjualan kantor itu dan menerima tawaran ruislag. Sementara Sahmud Ngabalin dan kawan-kawannya tidak setuju dan berusaha mempertahankan dengan membuat berbagai protes itu," kata Koordinator Majelis Pekerja Kongres HMI Wahyu Triono saat dihubungi detikcom, Selasa (22/5/2005).Sahmud Ngabalin bersikeras mempertahankan kantor tersebut dengan alasan bahwa kantor tersebut mempunyai nilai historis yang cukup kuat. "Banyak senior yang berkeinginan mempertahankan kantor tersebut," kata Wahyu.Jika dilihat dari sejarahnya, kata Wahyu, kantor tersebut sudah lama dihuni untuk kantor HMI. "Statusnya memang hak pakai, dan sekarang pihak pemilik menjual kantor tersebut," katanya.Hasanudin saat dikonfirmasi menolak berkomentar seputar penjualan kantor tersebut. "Waktunya tidak tepat untuk memberikan penjelasan, nanti pada waktunya akan kita jelaskan," pinta Hasanudin. Sementara Syahmud Ngabalin berkali-kali dihubungi, telepon selularnya tidak diangkat. (jon/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads