Wawancara Sukardi Rinakit
Tindakan FPDIP Over Acting
Selasa, 22 Mar 2005 13:04 WIB
Jakarta - Tindakan sejumlah kader PDIP dalam rapat Paripurna DPR yang berbuntut kericuhan dinilai over acting. Buntutnya, strategi PDIP untuk mendapat simpati publik bisa gagal.Seperti diberitakan, rapat Paripurna DPR yang membahas masalah kenaikan harga BBM pekan silam berujung keributan. Tidak hanya sekadar melemparkan interupsi, suasana panas yang ada nyaris berubah menjadi perkelahian terbuka antar sesama anggota dewan.Peristiwa itu diawali kekecewaan sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap kepemimpinan Agung. Agung dinilai tidak netral dan terlalu bertele-tela. Kekecewaan itu diujudkan dengan mendatangi meja pimpinan. Saling bentak dan maki pun terjadi. Tidak sampai di situ, para anggota dewan yang terhormat kemudian juga saling dorong. Sidang pun ricuh.Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit, menilai tindakan kader-kader banteng itu justru kontra produktif. Apa yang dipertontonkan oleh mereka adalah sebuah kesalahan strategi bagi FPDIP. Target untuk mengais simpati publik bisa-bisa gagal total.Hal tersebut disampaikan Sukardi Rinakit saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui telepon, Minggu (20/3/2005). Berikut petikan lengkap wawancara detikcom dengan Sukardi Rinakit:Bagaimana anda melihat kericuhan di DPR?Saya melihat kericuhan tersebut dari tiga hal. Pertama, kepemimpinan DPR yang tidak bagus dan tidak efektif dalam memimpin sidang paripurna tersebut. Kedua, manuver PDIP untuk mencari simpati masyarakat dengan menunjukan upaya serius mereka membela kepentingan rakyat. Ketiga, bargening politik dan manuver anggota dewan terhadap pemerintah untuk meminta kenaikan dana operasional.Soal pimpinan sidang yang tidak benar?Dalam sidang tersebut toleransi terhadap interupsi tidak diberikan. Walaupun memang interupsi tersebut menjengkelkan, tetapi seharusnya disiapkan strategiuntuk menghadapi itu. Jangan hanya ingin cepat mengambil keputusan dengan ketok palu. Dalam sidang tersebut juga terlihat pimpinan sidang pro pemerintah dan ingin agar sidang cepat-cepat selesai.Sikap dari anggota FDIP sendiri?Memang hal tersebut over acting dan tidak seharusnya seperti itu. Seharusnya kalau tidak setuju dengan suatu keputusan bisa dengan cara lain dan tidak harus maju ke depan meja pimpinan sidang. Kan bisa keluar ruang sidang (walk out), lalu di luar sidang bisa mengadakan konfrensi pers mengapa tidak setuju dengan keputusan tesebut sehingga publik lebih percaya dan tidak harus seperti itu. Kan yang namanya parlemen dasarnya adalah parle yang artinya bicara dan bukan adu fisik.Bukankan hal itu dilakukan untuk menarik simpati rakyat?Menurut saya tidak. Publik justru curiga hal itu hanya merupakan manufer politik. Coba saja dengar komentar masyarakat, mereka banyak yang menilai ini merupakan manuver politik PDIP untuk menarik simpati masyarakat. Seharusnya PDIP meminta maaf dulu kepada masyarakat karena ketika berkuasa dulu tidak memperhatikan rakyat, lalu mereka menyatakan sekarang akan berjuang untuk masyarakat.Bagaimana dengan wacana pengocokan ulang pimpinan DPR?Saya setuju dan hal tersebut memang perlu dipikirkan. Dalam sidang tersebut terjadi masalah sehingga memang ada something wrong dengan pimpinan sidang. Dan juga sikapnya yang tidak netral dengan ingin cepat ketok palu saja.Kriteria pemimpin dewan yang baik?Menurut saya dapat diambil dari tiga kriteria, seperti mantan aktivis sehingga dia punya daya tahan yang tinggi terhadp interupsi dan juga punya argumen terhadpa masalah yang ada. Punya pengalaman yang panjang, sehingga dengan pengalamannya dapat memimpin sidang dengan netral. Muda, reformis tulen, dan mau berdebat.
(djo/)











































