Foto: Dok. Basarnas |
"Pertama kami datang melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan tim Damkar yang sudah lebih dulu datang. Kemudian kita menganalisis reruntuhan bangunan itu seperti apa dan posisi korban di mana," ujar Komandan Kompi Basarnas, Charles Batljery, di lokasi kejadian, Sabtu (18/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. Basarnas |
"Setelah kita ketahui korban masih hidup kita buat akses lubang secara vertikal untuk turun ke lokasi. Setelah ketemu dengan korban kita secara perlahan membuka akses jalan keluar," kata Charles.
Proses evakuasi, kata Chales, tidak menggunakan alat berat. Pertimbangan hal itu melihat kondisi gedung yang rawan roboh.
Foto: Dok. Basarnas |
"Dalam proses evakuasi keselamatan diri dan korban menjadi prioritas. Selama evakuasi kita menggunakan alat manual jadi membuat jalur di sisi kedua tembok, ini harus dilakukan perlahan-lahan karena konstruksi bangunan juga tidak kuat," paparnya.
Menurutnya, korban terjepit di antara beton tembok dengan posisi sujud. Selama 9 jam lebih, korban bertahan dalam posisi itu.
"Selama proses evakuasi kami berusaha menenangkan korban agar tidak panik. Karena ketenangan korban akan mempengaruhi daya tahan tubuhnya. Ini SOP tim rescue untuk dalam penyelamatan korban hidup," pungkasnya.












































Foto: Dok. Basarnas
Foto: Dok. Basarnas
Foto: Dok. Basarnas