Seperti yang dilakukan oleh LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) yang merupakan dana kemitraan PT Freeport Indonesia untuk pengembangan masyarakat yang diambil dari 1 persen penghasilan kotor setiap tahun. Salah satu CSR (Corporate Social Responsibility) terbesar dari Freeport dari bidang tersebut melalui Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.
Kondisi di RSMM Timika (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk 7 suku dan penduduk Mimika biaya RSMM gratis. Di luar 7 suku mereka bayar biasa tapi biaya tidak terlalu tinggi biayanya," ungkap Staf Biro Kesehatan LPMAK Liony di RSMM, Timika, Mimika, Sabtu (18/6/2016).
Kondisi di RSMM Timika (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom) |
Rumah sakit tipe C ini sudah berdiri sebelum RSUD Mimika dibangun pada tahun 2008. Sehingga warga Mimika menganggap rumah sakit yang eksis di Mimika adalah RSMM itu.
"Kami di sini ada pelayanan poli sore. Di RSMM kami punya 133 tempat tidur untuk rawat inap. Dengan berbagai spesialisasi seperti mata, anak, bedah, penyakit dalam dan lainnya," jelas Liony.
LPMAK juga memiliki rumah sakit gratis seperti RSMM di Distrik Tembagapura, di perkampungan yang berada dekat tambang Freeport. Yakni RS Waa Banti yang meski tempatnya lebih kecil, namun memiliki kualitas serupa dengan RSMM.
Layanan medis LPMAK juga langsung mendatangi masyarakat melalui Klinik Terapung bagi warga yang tinggal di sekitar pesisir. Untuk Klinik Terapung ini, LPMAK bekerja sama dengan Dinkes, RSUD, dan Malaria Center.
Kondisi di RSMM Timika (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom) |
Malaria Center sendiri merupakan kerja sama antara pemerintah, PT Freeport Indonesia, LPMAK, dan sejumlah pihak swasta lainnya. Mereka melakukan pekerjaan pelayanan masyarakat untuk menanggulangi penyakit malaria. Seperti indoor residul spraying, pembagian kelambu, deteksi kasus aktif, dan edukasi bagi masyarakat.
Selain Malaria Center, juga terdapat Pusat Penelitian Malaria yang kantornya berada satu kompleks di RSMM. Bekerja sama dengan LSM Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Papua, LPMAK dan sejumlah pihak lainnya, pusat penelitian Malaria kegiatannya murni melakukan penelitian yang berkaitan dengan penyakit malaria. Salah satu proyeknya adalah meneliti obat malaria untuk skala nasional.
"Karena ada kecenderungan obat malaria saat ini resisten. Kalau Klinik Terapung kami mobile, peralatan lengkap. Biasanya nanti peralatan dibawa turun ke darat. Kalau pasien tidak tertangani bisa diobservasi dan stabilisasi dibawa ke kapal," Liony menjelaskan.
Upaya LPMAK untuk menanggulangi tingginya penyakit malaria masif dilakukan. Saat ini disebut Liony kecenderungan penurunan pasien malaria di Mimika sudah mulai turun, khususnya yang ada di wilayah pesisir.
"Layanan kesehatan masyarakat kami juga ada kesehatan ibu dan anak di 33 kampung, berbarengan dengan sanitasi. Pembangunan sarana seperti jamban dan pembuatan penampung air hujan. Pencegahan HIV terutama di area Waa Banti khususnya," ucapnya.
"Pencegahan malaria terutama di daerah pesisir, kami terjun di 22 kampung. Kegiatan ada penyuluhan, pembagian kelambu, dan penyemprotan terutama pengecekan darah massal. Karena kebanyakan malaria tidak menunjukkan gejala. Untuk pesisir satu area ditangani setahun dua kali," imbuh Liony.
Untuk tahun 2013, LPMAK bersama stakeholder terkait melakukan pengecekan darah, slide positif ada lebih dari 25 persen. Artinya dari total yang diperiksa, 25 persen lebih positif malaria. Bahkan tahun-tahun sebelumnya bisa lebih dari 50 persen.
"Tahun 2014 slide positif turun jadi 12 persen. Saat ini turun hanya tinggal sekitar 4,5 persen, ini 2015. Penurunan itu setelah adanya program yang masuk di kampung-kampung dan di kota. Karena banyak yang terlibat seperti Dinkes, Kemenkes, Freeport. Malaria paling tinggi dulu di Mimika, sekarang tingkatnya sudah mulai turun," terang Liony.
Tren penurunan juga terlihat dari berkurangnya kasus malaria yang ditangani oleh RSUD, RSMM, dan puskesmas-puskesmas yang ada di Timika. Dalam kurun waktu 2-3 tahun terakhir, penurunan kasus berkisar antara 40-50 persen.
Selain lewat LPMAK, ada CSR yang diurus langsung oleh Freeport melalui Sosial Local Development (SLD) Departement mereka. CSR lewat departement tersebut murni di-support oleh pihak Freeport. Pihak internal Freeport turun melalui Public Health and Malaria Control (PHMC) di bawah SLD mereka.
Menurut Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, kegiatan PHMC lebih berfokus pada unsur pencegahan. Hampir sama kegiatannya seperti yang dilakukan oleh LPMAK, penyemprotan dan pemberian kelambu terus menerus dilakukan.
"Kalau ini preventif, kalau LPMAK lebih pada penanganan. Kami juga banyak banyak menyasar warga di pesisir. Jadi memberi tapi sekaligus memasangkan kelambu. Sebab kadang mereka dikasih kelambu tapi enggak dipasang. Maka kami pastikan itu terpasang. Merangkul warga langsung," kata Riza.
Pelayanan masyarakat ini menjadi komitmen PT Freeport, khususnya bagi warga di sekitar tambang. Bahkan jika di wilayah Tembagapura ada pasien yang tidak bisa ditangani di Puskesmas atau RS Waa Banti, Freeport akan membawanya turun dengan helikopter. Untuk diketahui, biaya sewa helikopter satu jam senilai USD 3.000.
Fasilitas serupa juga berlaku bagi warga-warga pegunungan yang berada di sekitar RS Waa Banti. Freeport kerap membawa pasien untuk dirujuk ke RS Wa Banti dengan menggunakan helikopter mengingat belum adanya jalur atau infrastrutur darat.
"Ya kadang begitu, pernah ada juga yang mau melahirkan kita bawa pakai chopper. Itu wujud komitmen kami untuk warga," ujar Riza.
Setidaknya sudah ada 90 pasien dari Puskesmas di sekitar pegunungan yang ada di sekitar Tembagapura yang dirujuk ke Waa Banti. Kemudian jika ada pasien yang tidak bisa ditangani di RSMM dan Waa Banti, baik Freeport maupun LPMAK akan merujuk pasien ke rumah sakit di luar Papua.
Kerja sama LPMAK dan Freeport adalah RS Carolus dan RS PGI Cikini Jakarta, serta RS Ortopedi Dr Soeharso Solo. Kebanyakan yang dirujuk ke rumah sakit di luar Papua adalah pasien kasus-kasus keganasan seperti kanker. Biayanya pun ditanggung oleh LPMAK. (elz/dhn)











































Kondisi di RSMM Timika (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom)
Kondisi di RSMM Timika (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom)
Kondisi di RSMM Timika (Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom)