Wagub Djarot: Ganjil Genap Dikaji, Tapi Paling Efektif itu ERP

Wagub Djarot: Ganjil Genap Dikaji, Tapi Paling Efektif itu ERP

Ahmad Ziaul Fitrahudin - detikNews
Sabtu, 18 Jun 2016 21:05 WIB
Wagub Djarot: Ganjil Genap Dikaji, Tapi Paling Efektif itu ERP
Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memberlakukan uji coba pelat nomor ganjil-genap di lokasi bekas penerapan sistem 3 in 1 pada 20 Juli 2016. Uji coba itu akan dilakukan selama sebulan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menegaskan bahwa penerapan pelat nomor ganjil-genap itu akan benar-benar dikaji. Apabila ternyata tidak efektif, maka Pemprov DKI Jakarta akan mencabutnya.

"(Penerapan pelat nomor) ganjil-genap akan kita kaji betul. Apakah efektif atau tidak. Jangan-jangan nanti sama seperti 3 in 1. Jadi upaya itu perlu kita lakukan," kata Djarot di kediamannya di Jalan Mega Kuningan Barat 1, Jakarta Selatan, Sabtu (18/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Djarot pun menilai sebenarnya yang paling efektif diterapkan untuk mengatasi kemacetan adalah sistem ERP (Electronic Road Pricing) atau sistem jalan berbayar. Namun untuk saat ini, sistem ERP masih belum benar-benar siap.

"Yang paling efektif sebetulnya ERP. Jadi kita inginnya ERP, sampai (Pemprov DKI) menyediakan transportasi publik yang bagus," kata Djarot.

Saat ini Pemprov DKI memang tengah membangun sejumlah transportasi massal seperti MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit), hingga pembenahan rute TransJakarta. Djarot menyebut bahwa hal itu adalah salah satu 'pemaksaan' agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

"Itu kan kita harus atasi dengan memaksa orang untuk meninggalkan dia punya kendaraan pribadi, pemerintah akan menyediakan transportasi massal. Sekarang yang sudah ada TransJakarta, sudah kita ubah betul, bukan berdasarkan koridor, sekarang berdasarkan rute, kita perbanyak rute. Kemudian ada Commuter Line kita sangat efektif, sebentar lagi MRT, kita harap 2018 selesai, kemudian LRT. Ini kuncinya begitu transportasi publik sudah bagus, saya yakin mereka akan meninggalkan kendaraan pribadi. Sedangkan untuk jalan protokol mereka harus bayar, hanya orang yang kaya yang bisa masuk," ujar Djarot. (dhn/dhn)


Berita Terkait