Sungguh unik melihat fenomena iman yang dibawa oleh para pendulang devisa Indonesia (TKI) di Korea. Meskipun datang dari keluarga menengah bawah, namun tidak serta merta luluh di tengah budaya K-pop yang tengah melanda. Mereka bahkan cukup kental menenteng nilai-nilai tradisi dan agama (utamanya Islam) kemanapun mereka pergi.
Suasana pengajian dan buka puasa di salah satu masjid di Korsel |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Uniknya lagi, masjid-masjid mereka ini relatif kosong dari kegiatan. Maklumlah, kaum pekerja ini rata-rata harus berangkat kerja pagi-pagi dan pulang malam hari. Di hari Jumat pun sering tidak dipakai jumatan karena memang tidak memungkinkan untuk pulang dari tempat kerja karena jaraknya yang jauh dan waktu istirahat yang mepet. Bahkan di bulan Ramadhan ini, kegiatan buka puasa dan tarawih hanya ramai pada hari Sabtu dan Minggu saja.
Penulis: M Aji Surya |
Kenyataan di atas, kalau mau diakui, merupakan sebuah fenomena yang luar biasa. Umumnya, membangun masjid Indonesia di negeri orang hanya dilakukan oleh orang-orang yang tajir tertentu. Lihatlah masjid Indonesia di Den Haag yang dibangun oleh seorang kongklomerat kita. Selain izinnya tidak mudah, di beberapa Negara maju, kemampuan gotong royong untuk membangun rumah ibadah memang cukup menjadi tantangan tersendiri.
Sejauh kaki melangkah, rasanya belum pernah saya temui masjid-masjid yang didirikan umat Islam dari negeri "padang pasir" Timur-Tengah. Selain jumlah yang sedikit, bisa jadi mereka lebih suka meleburkan dirinya dalam euforia budaya K-pop yang sedang membahana. Lebih asyik dan tidak perlu usaha banyak.
Akhirnya, berdirinya lebih dari 40 masjid dan musholla Indonesia di Korea Selatan menyadarkan kita bahwa ketahanan diri sebagian masyarakat Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Kaum menengah pekerja itu perlu mendapatkan perhatian lebih karena telah mencoba bangkit dan mandiri diatas nilai-nilai keindonesiaan. Memang, militansi kebangsaan justru sering muncul dari kalangan menengah bawah dan bukan dari kaum elit yang tidak jarang memiliki banyak agenda. ()
*Penulis adalah WNI yang tinggal di Korsel (ajimoscovic@gmail.com)
(faj/faj)












































Suasana pengajian dan buka puasa di salah satu masjid di Korsel
Penulis: M Aji Surya