Mantan Baby Sitter Mengaku Sering Disiksa Ivan Haz Secara Fisik dan Verbal

Mantan Baby Sitter Mengaku Sering Disiksa Ivan Haz Secara Fisik dan Verbal

Rini Friastuti - detikNews
Rabu, 15 Jun 2016 17:03 WIB
Mantan Baby Sitter Mengaku Sering Disiksa Ivan Haz Secara Fisik dan Verbal
Ivan Haz saat sidang/ Foto: /dhani detikcom
Jakarta - Thoifah adalah bekas baby sitter yang mengalami kekerasan oleh Fanny Syafriansyah alias Ivan Haz. Dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), wanita berusia 22 tahun tersebut mengaku mendapatkan kekerasan fisik dan verbal selama bekerja pada Ivan Haz.

"Saya bekerja sejak tanggal 2 Mei 2015 di Apartemen Ascort. Saat di ntar kurir, yang menerima saya adalah Pak Ivan (Ivan Haz)," ujar Thoifah di hadapan majelis hakim saat persidangan, Rabu (15/6/2016).

Dia bercerita awalnya tak ada kejadian apa-apa selama bekerja di sana. Namun setelah 1 minggu bekerja, dia merasa tak betah karena Ivan dan Istrinya kerap bertengkar di malam hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kira-kira seminggu setelah bekerja saya bilang ke bu Amnah (istri Ivan) kalau saya nggak betah di sana, jadi saya bilang saya ingin pindah saja. Kadang malem Pak Ivan dan istrinya suka berantem saya jadi takut," kata dia.

Waktu itu si istri menyarankan agar Thoifah melaporkannya pada Ivan. Setelah dilaporkan Ivan memintanya untuk menunggu hingga ada gantinya. Pihak yayasan yang mengirimkan Thoifah ke sana juga meminta wanita ini menunggu karena belum ada pengganti.

Namun karena merasa takut dengan keributan yang kerap terjadi, pada tanggal 5 Mei 2015 pagi dia nekat kabur dari apartemen. Di lobby apartemen dia bertemu petugas keamanan yang menyuruhnya menunggu sembari menelepon pihak yayasan.

"Terus Pak Ivan datang ke bawah, saya dibawa naik ke atas. Pas di atas pintu apartemen ditutup, pak Ivan marah-marah. Dia bilang 'kamu nggak tahu siapa saya? Saya anaknya Hamzah Haz. Kamu mau dipenjara apa mau kerja di sini? Habis itu dia telepon polisi dia bilang "nanti kamu saya adukan saja kamu nyuri sesuatu," kata Thoifah menirukan ucapan Ivan saat itu.

Karena takut dengan ancaman tersebut akhirnya dia mengaku terpaksa bekerja sebagai baby sitter. Namun setelah kejadian tersebut, rupanya kekerasan fisik dan verbal kembali berulang.

"Awalnya cuma ancam saja, sambil ngomong (kata-kata kasar), ditujukan ke saya. Dia suka marah-marah. Misalnya kalau saya mandiin anaknya nangis nggak mau diam kaya gitu. Kalau marah suka mukul pakai remote tv atau pakai I-phone yang dipakai pak Ivan," akunya.

"Apa lagi yang dilakukan terdakwa?," tanya hakim.

"Tanggal 17 Juli abis lebaran kan mereka pulang, nggak sengaja injak bajunya bu Amnah. Bu Amnah mukul saya di kepala. Pas udah selesai lebaran beberapa hari saya bilang pas pak Ivan tiduran, saya bilang, 'sebelumnya saya minta maaf, saya minta tukar aja pak, kan saya belum 3 bulan. Jadi ada ganti dari yayasan ada 3 orang lagi. Kata Pak Ivan Minta pulang terus! Sambil mukul di tengkuk. Iya maaf pak, saya mau pulang. Lalu Ivan ngambil bantal apartemen untuk mukul saya 3 kali. Saya kejedot lemari kamar," bebernya.

Tanggal 26 Juni saudara Thoifah sempat datang untuk menjemput. Namun karena takut dimarahi Ivan, akhirnya dia beralasan ingin bertahan di sana hingga masa 6 bulan kerja berakhir.

Kejadian itu rupanya diikuti dengan kekerasan fisik dan verbal lainnya hingga Thoifah menderita beberapa luka memar dan lebam di beberapa bagian tubuh, khususnya mata dan telinga. Karena sering dipukuli di kedua bagian tersebut, mata Thoifah sempat bengkak dan tak bisa dibuka dan daun telinganya mengucurkan darah.

"Lalu juga dipukuli pakai sandal hitam. Tapi saya juga disuruh mukulin kepala saya sendiri pakai sandal. (Ivan bilang),'Pukulin kepala kamu tuh pakai sandal! Daripada saja yang mukul kamu!," kata Thoifah sambil terisak.

Meskipun begitu, Thoifah mengatakan, ada kalanya Ivan bersikap baik. "Tapi kalau lagi baik saya dipesenin makanan. Tapi kalau ada bu Amnah saya dimarahin lagi, suka mukul mata kanan kiri. Kepala pakai barang-barang," kata dia.

Tak tahan dengan semua penyiksaan yang dirasakannya, Thoifah akhirnya nekat kabur saat menyuapi anaknya Ivan. Tanpa HP dan sepeser pun uang di tangan karena gajinya tak dibayarkan selama beberapa bulan, Thoifah kemudian lari melewati gang hingga Stasiun Karet, setelah sebelumnya sempat mengemis di sepanjang jalan untuk membeli tiket kereta api.

Di stasiun Karet dia dibantu seseorang yang iba kepadanya dengan membelikan makanan serta obat. Orang tersebut juga meminjamkan Hp nya kepada Thoifah untuk menelepon pamannya agar dapat dijemput di Stasiun Depok Baru.

"Di kereta banyak ibu-ibu yang nanya saya kenapa, karena kulit saya lebam, tapi saya nggak mau mengaku karena dulu pernah kejadian saya kabur,tapi saya dikembalikan lagi ke apartemen. Saya nggak mau," kata dia sambil menangis.

Beruntung di dalam KRL dia bertemu seseorang yang bekerja di LBH. Setelah dibujuk, akhirnya Thoifah mau ikut dengan orang tersebut ke LBH lalu melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polda Metro Jaya. (rii/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads