"Ada hibah-hibah ke KPK? Karena penting bagi kita mengambil kebijakan. Hibah untuk apa? Kalau usulan (tambahan anggaran) Rp 87,7 miliar, pada prinsipnya kami dukung, tapi kami boleh tidak mengetahui hibah-hibah itu?" tanya Desmon di ruang rapat Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (14/6/2016).
Menjawab pertanyaan itu, Ketua KPK Agus Rahardjo mengaku bahwa lembaga yang dipimpinnya itu memang menerima hibah dari sejumlah pihak. Namun hibah yang diterima bukan dalam bentuk uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bentuk barang? Modifikasi alat penyadapan mungkin?" kata Desmon menimpali.
"Barangnya alat peraga pendidikan. Kita pernah menerima bus untuk sosialisasi program KPK ke daerah-daerah. Dari Rupiah murni tidak ada kita beli bus," jelas Agus.
Merespons jawaban Agus, Desmon mengatakan seharusnya nanti apabila KPK menerima tawaran pelatihan agar dianggarkan. Hal itu agar Komisi III mengetahui apabila KPK menerima hibah semacam itu dan dilakukan di luar negeri.
"Di anggaran kalau misal pendidikan di luar negeri tolong dianggarkan biar kami tahu," kata Desmon.
Pada Senin kemarin, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert Blake, sempat menyambangi KPK. Blake mengakui bahwa Amerika Serikat mendukung KPK dalam pemberantasan tindak pidana korupsi dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan melalui FBI.
"AS bangga mendukung upaya itu dengan memberikan pelatihan dan meningkatkan kapasitas pegawai KPK. Kami berikan bantuan melalui US Agency for International Development dari Departemen Kehakiman AS melalui FBI dan institusi-institusi, agensi-agensi dari AS. Tadi kita diskusikan bagaimana menjaga kerjasama tersebut dan meningkatkan kerja sama di area-area yang lebih baru," ujar Blake di KPK, Senin kemarin. (dha/rvk)











































