Melihat Konservasi Harimau Sumatera di Tambling Lampung yang Dikelola Tomy Winata

Rivki - detikNews
Senin, 13 Jun 2016 17:39 WIB
Foto: Rivki
Bandar Lampung - Siang itu langit cerah di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Burung Merak, Kerbau, kera dan rusa dari kejauhan terlihat sedang 'bermain' di padang savana. Ada apa saja di Tambling?

Wilayah konservasi TWNC ini terletak di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Nama Tambling diambil karena daerah ini diapit Teluk Tampang dan Tanjung Belimbing sehingga disingkat menjadi Tambling.

Kawasan Tambling yang dikelola oleh pengusaha Tomy Winata lewat Arta Graha Peduli. Dengan luas wilayah 48 ribu hektar, Tambling diharapkan menjadi pusat penelitian flora dan fauna di Indonesia.

Minggu (12/6/2016), detikcom diundang pengusaha Tomy Winata dan Arta Graha untuk berkeliling Tambling. Kawasan konservasi ini memiliki banyak fasilitas salah satunya konservasi Harimau Sumatera.

Di lokasi ini ada 7 Harimau Sumatera yang sedang menjalani masa rehabilitasi. Mereka harus direhab supaya bisa dilepas ke alam liar bila sudah siap. Kebanyakan harimau yang direhab di sini adalah harimau yang berkonflik dengan warga atau yang berasal dari kebun binatang.

Mereka direhab untuk dilatih cara berburu sebagaimana hidup di alam liar. Bila ada yang sakit mereka juga diobati oleh tim dokter hewan TWNC.

Sudah ada beberapa harimau yang lulus dari pusat rehabilitasi dan dilepas ke alam liar. Pada tahun 2008, TWNC melepas Harimau Sumatera bernama Pangeran dan Agam. Di tahun 2010 ada 2 Harimau Sumatera bernama dan Buyung dan Panti yang dilepas.

Namun tidak semua Harimau yang sudah dilepas bisa berjuang, pada tahun 2016 Panti ditemukan terluka di lokasi yang berdekatan dengan pusat rehabilitasi. Ternyata, Panti sedang hamil dan tim dari TWNC langsung melakukan operasi.

Beruntung nyawa Panti dan 3 anaknya berhasil diselamatkan. 3 anak Panti pun diberikan nama oleh Ibu Ani Yudhoyono yang kala itu sebagai ibu negara dengan nama Topan, Petir dan Bintang.

Di tahun 2015, TWNC melepas Panti dan anaknya Petir ke alam liar karena dianggap sudah siap. Sedangkan Topan dan Bintang sampai saat ini masih menjalani masa rehabilitasi bersama 5 harimau lainnya.

Pusat rehabilitasi harimau ini juga diminimalisirkan dari kunjungan tamu-tamu. Alasannya, agar harimau tidak terlalu sering berinteraksi dengan manusia. Menurut salah orang pengurus di konservasi, bila harimau terlihat sering berinteraksi dengan manusia maka ketika bertemu manusia di hutan harimau menjadi tidak takut dan rawan konflik.

"Karena harimau yang liar itu tidak akan berani mendekat dengan manusia. Dia kabur begitu melihat manusia," ucap pengurus tersebut.

Pengelola TWNC, Tomy Winata, menjelaskan, kawasan konservasi TWNC memang diminta pemerintah untuk menonjolkan Harimau Sumatera sebagai ikon. Dia pun menyanggupi permintaan pemerintah dan mengerahkan segala upayanya demi menyelamatkan Harimau Sumatera dari kepunahan. Total ada 32 harimau yang diketahui berada di wilayah TWNC.

"Kenapa kita concern kepada harimau? Karena memang pemerintah minta saya tonjolkan harimau sebagai ikon. Tapi tidak itu saja kok, saya juga buat nursery pembibitan, rehabilitasi terumbu karang dan semuanya. Cuma memang yang kita tonjolkan adalah harimaunya," ucap Tomy saat ditemui di kawasan TWNC.

Lantas apakah pusat rehabilitasi ini terbuka bagi para peneliti?

"Silakan saja berkunjung ke TWNC, ini bukan punya saya. Kalau mau datang silakan saja bebas. Tapi kalau kamu mau tahu soal informasi bisa hubungi Arta Graha peduli. Tapi kalau mau datang sendiri juga bisa nanti begitu sampai TWNC bisa langsung ke office untuk mendapatkan penjelasan," jawab Tomy. (rvk/dra)