Kisah Tomy Winata Membangun Kawasan Konservasi di Lampung

Rivki - detikNews
Senin, 13 Jun 2016 17:25 WIB
Foto: Rivki
Bandar Lampung - Siapa sangka sosok pengusaha Tomy Winata memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup di Indonesia. Bos Arta Graha ini rupanya sangat peduli dengan kondisi alam di Indonesia. Dia pun berupaya memperbaiki kondisi alam di Indonesia tepatnya di Pulau Sumatera di Provinsi Lampung.

Kepedulian Tomy ini membuat dirinya bergerak untuk mengelola konservasi alam di wilayah Tambling, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Namanya Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), yang mungkin masih asing di telinga masyarakat.

Kawasan yang dikelola ini merupakan wilayah dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Dengan luas wilayah sekitar 48.000 hektar, Tomy ingin agar wilayah yang tadinya dijadikan penebang liar sebagai spot favorit direhabilitasi demi keberlangsungan kehidupan alam di Indonesia.

Kisah Tomy mengelola kawasan konservasi sangat menarik. Dia mengaku tidak mengetahui wilayah ini sebelum tahun 1997. Namun, dia tiba-tiba diajak temannya untuk berkunjung ke Tambling. Begitu sampai di Tambling, Tomy merasa miris karena melihat hutan di ujung Pulau Sumatera yang bersentuhan langsung dengan Samudera Hindia ini dalam kondisi rusak.

Dia pun tergerak untuk mengurus kawasan ini menjadikan daerah konservasi. Namun, keinginan Tomy untuk mengurus tidak bisa direspons cepat. Untuk mengurus administrasi dan kelegalan dia butuh waktu 5 tahun. Akhirnya pada tahun 2002 Tomy secara sah dan legal mengelola kawasan ini.

"Awal-awal saya ke sini, masyarakat setempat tidak senang. Dikiranya saya ada udang di balik batu. You tanya deh sama masyarakat sini, mungkin sampai sekarang masih ada yang mau bunuh saya," ucap Tomy saat diwawancara langsung oleh detikcom, di kawasan konservasi TWNC, Lampung, Minggu (12/6).

Tomy berkisah, warga tidak senang kepada dirinya karena warga yang tadinya melakukan penebangan liar menjadi tidak bebas. Ya, Tomy menjaga kawasan Tambling ini supaya kembali lagi sebagaimana fungsi hutan pada umumnya. Warga yang tadinya boleh membabat segala pohon menjadi sulit, otomatis penghasilan warga setempat pun menjadi berkurang.

Belum lagi aktivitas perburuan hewan yang dilakukan warga dilarang karena Tomy sangat ingin menjaga lingkungan tersebut sebagai rumah hewan-hewan. Tambling sendiri dianggap Tomy adalah rumah bagi Harimau Sumatera dan hewan-hewan lainnya.

"Belum lagi nelayan yang tadinya ngebom karang dengan mudah jadi enggak bisa. Mereka menganggap saya yang melarang. Padahal, bukan saya yang larang, ini yang larang pemerintah lewat undang-undang yang menyatakan kawasan konservasi tidak boleh melakukan hal-hal yang ilegal," cerita Tomy.

Berbekal kesabaran dan ketulusan menjaga alam Tomy bersabar diri. Dia pun melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan penyadaran, penyuluhan dan edukasi tentang lingkungan.

Sambil memberikan penyuluhan, Tomy juga mengerahkan orang-orangnya untuk menjaga kawasan seluas 48 ribu hektar ini. Hasilnya sangat signifikan, kasus kejahatan hutan yang tadinya marak menjadi berkurang. Peta tambling yang dilihat dari satelit citra angkasa sebelum tahun 2006 berwarna putih berubah perlahan menjadi hijau. Artinya kawasan ini terus pulih dari kerusakan alam.

Pos Pemantau Pernah Dibakar Warga

Namun, membangun Tambling menjadi seperti saat ini tak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi Tomy. Beberapa pos pemantau pernah dibakar warga pada tahun 2014 hanya karena kesalahpahaman warga.

Pada kala itu, ada warga desa Pamekahan (yang berlokasi di dalam kawasan TWNC) mengadakan pernikahan, namun pesta pernikahan itu bentrok dengan jadwal lalu-lintas satwa. Pengurus Tambling memberikan pengertian kepada warga dari desa yang berada di luar TWNC untuk tidak masuk kawasan konservasi pada saat jam lalu lintas satwa.

Tapi warga menganggap pengelola malah melarang aktivitas penduduk. Kesalahpahaman inilah yang mengakibatkan pos-pos pemantau dan pos pintu masuk Tambling dibakar.

Namun Tomy selaku pemimpin Arta Graha Peduli tetap bersabar. Sambil melakukan perbaikan, pengelola juga melakukan upaya penegakan hukum dengan melaporkan kejadian ini ke polisi. Akhir kisah pembakaran ini, para pelaku berjumlah 6 orang dihukum penjara 1 bulan.

Setiap Bulan Keluarkan US$ 2 Juta untuk rawat Tambling

Namun Tomy sadar, dia tidak bisa merawat Tambling seumur hidup. Tomy sangat ingin Tambling hidup mandiri. Pelan-pelan dia ingin kawasan Tambling menghasilkan sesuatu untuk bisa dijual supaya bisa menghidupi dirinya.

Saat ini, Tambling masih dibiayai Tomy lewat kantongnya dengan US$ 2 juta/bulan (sekitar Rp 27 miliar). Salah satunya membuat Tambling mandiri adalah dengan memanfaatkan alam yang ada untuk dibangun peternakan, perkebunan dan lain-lain.

"Karena saya tidak bisa terus hidup jadi Tambling ini harus ada income untuk hidup sendiri. Bukan berarti dikomersilkan, tapi ini untuk hidup sendiri. Apakah ada yang mau merawat ini seperti saya?" tegas Tomy.

Tomy juga melakukan pembangunan masyarakat setempat dengan pendidikan. Hingga tahun ini, sudah ada 29 orang yang disekolahkan Tomy lewat Arta Graha Peduli di tingkat SMA/SMK. Bahkan, sebagian ada yang dibeasiswakan Tomy ke perguruan tinggi di IPB, Bogor.

"Sambil membangun ini, saya juga membangun pendidikan ke masyarakat. Karena kalau tidak diberikan pendidikan mereka akan terus begini, kita sekolahkan mereka, kita bangun sekolah hingga SMP, yang mau lanjut SMA/SMK kita beasiswa mereka di Bogor bahkan kalau mau lanjut ke perguruan tinggi kita kasih beasiswa dan sudah ada yang di IPB," terang Tomy. (rvk/dra)