"Semuanya sih silakan saja untuk bisa jadi calon Gubernur DKI. Sah-sah saja tapi kan semuanya kembali lagi soal figur ke rakyat ke pemilih," ungkap Novanto.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri buka bersama di rumah Agung Laksono, Jl Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Minggu (12/6/2016). Menurut Novanto, saat ini warga Jakarta memerlukan tokoh yang visioner dan penuh ketegasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena di sini (DKI Jakarta) adalah barometer nasional dan barometer ini akan jadi dasar untuk ditiru daerah lain," lanjut Novanto.
Partai Golkar sendiri disebut segera mengumumkan dukungannya kepada Ahok yang maju lewat jalur independen. Meski begitu, keputusan masih akan menunggu hasil Musyawarah Daerah Partai Golkar DKI.
"Kita masih harus menunggu. Musda tanggal 18 ini. Mudah-mudahan berjalan lancar dan nanti mekanismenya kita percayakan kepada DPD tingkat I dan II di DKI. Yang penting realistis aja. Untuk DKI yang penting dukung yang menang," jelas Novanto.
Soal kemungkinan apakah Golkar akan mendukung calon selain Ahok, ia belum mau berbicara banyak. Novanto mengaku akan menyetujui apapun keputusan dari Musda Golkar DKI.
"Ya nanti kita tunggu saja mekanisme di DPD tingkat I seperti apa. Dan tentu apapun keputusannya akan saya amini," kata dia.
Lantas apakah Golkar akan tetap mendukung Ahok jika tetap maju lewat independen?
"Pasti Pak Ahok punya pikirian yang lebih baik, doakan saja," jawab Novanto.
Sebelumnya MPJ mendorong 7 tokoh islam untuk maju di Pilgub DKI dan akan melobi partai-partai politik. Tujuh tokoh islam yang dinilai MPJ layak memimpin DKI Jakarta adalah Adhyaksa Dault, Nurdin Abdullah, Sandiaga Uno, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, Suyoto, Yusril Ihza Mahendra, dan Ustaz Yusuf Mansur.
"Ya tentu ada komunikasi dengan parpol yang tidak mendukung calon independen," terang Ketua Dewan Syura MPJ, Prof KH Didin Hafiduddin, Minggu (12/6).
(elz/bag)











































