"Kriteria tahun ini, ada dua kriteria, memperjuangkan perdamaian dan persepktif gender. Harus ada perspektif gender yang dikembangkan. Kebetulan dari dua kota yang punya sejarah konfik berdarah. Perdamaian keberagamaan. Kebetulan perdamaian ditemukan di daerah konflik tersebut," kata satu juri Maarif Award 2016, Endy Mouzardi Bayuni, di Jalan Pilar Mas Utama, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu (12/6/2016).
Sebagai salah satu peraih penghargaan, Josep Matheus Rudolf yang merupakan korban selamat dari konflik kekerasan di Ambon pada 1999 itu percaya bahwa setiap agama adalah sama. Kehidupannya sendiri tak lepas dari hal berbau Islam walaupun ia pribadi adalah Khatolik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tantangan ada dari dalam, merasa kurang percaya. Apakah saya yang dari bawah bisa diterima agama lain. Saya merasa masih di bawah. Saya menjalankan apa adanya dengan sederhana. Saya mulai komunikasi untuk mendorong perdamaian dari bawah. Menangani pengungsi sama seperti jihad. Saya melakukannya mengalir saja," ujar Budiman saat ditanya tentang kendala kesulitan di daerah konflik.
Sementara itu penerima penghargaan lainnya, Institut Mosintuwu merupakan lembaga yang mampu menjadikan kekuatan perempuan menjadi gerakan pembaruan di Poso. Mereka di dalamnya merupakan korban selamat atas konflik di Poso dan mampu menjembatani konflik kemudian membangun tanah Poso.
"Saya sendiri mengalami, saya korban konflik Poso. Merasa apakah tokoh agama menerima saya, perempuan biasa hanya sumur, dapur, kasur, saya berpikiran tidak dapat dibiarkan. Saya sendiri dari muslim, mereka tidak sperti dulu lagi. Kami punya program menerapkan muslim Poso yang sempat bercerai," ujar Asni, perwakilan dari (rna/rna)










































