BPOM Minta Warga Waspada Terhadap Takjil yang Mengandung Formalin

BPOM Minta Warga Waspada Terhadap Takjil yang Mengandung Formalin

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kamis, 09 Jun 2016 12:40 WIB
BPOM Minta Warga Waspada Terhadap Takjil yang Mengandung Formalin
ilustrasi jajanan takjil/ Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Memasuki bulan Ramadan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) meningkatkan intensitas pengawasan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah beredarnya makanan takjil yang mengandung bahan berbahaya.

"Dua minggu menjelang bulan Ramadan kami mengintensifkan pengawasan peredaran bahan pangan seperti takjil. Hal ini untuk menjamin keamanan pangan masyarakat," ujar Plt Kepala BPOM Badhar Johan di Ruang Wartawan BPOM, Jl. Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Kamis (9/6/2016).

Deputi Bidang Pengawasa Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Suratmono menambahkan, hasil temuan yang ada di lapangan semakin menurun. BPOM pusat dan daerah menemukan tren penurunan bahan pangan yang mengandung zat berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tren pengawasan takjil memang ada penurunan dari bahan pangan berbahaya yang ditemukan di lapangan. Sekarang dinas-dinas terkait di pemerintah kota sudah mulai aktif. Dulu kita main sendirian. Tren temuan bahan berbahaya pada pengawasan takjil sejak 2011 sudah mengalami penurunan," ujar Suratmono.

Data dari BPOM, pada 2013 tercatat ada 12 persen yang menggunakan rhodamin. Kemudian turun menjadi 10 persen. Di tahun 2015 menjadi 11 persen.

Sementara penggunaan formalin pada pangan takjil, pada 2013 tercatat 13 persen bahan pangan yang mengandung formalin. Kemudian turun menjadi 12 persen di 2014. Dan kembali turun di tahun 2015 menjadi 6 persen.

Pengawasan makanan ini dilakukan di hampir semua provinsi. Pada pelaksanaannya, BPOM juga merangkul lembaga lain untuk pegawasan ini.

"Pengawasan yang kami lakukan, juga kerjasama dengan bea cukai. Tadi pagi juga kami datang ke BNN untuk bekerja sama memberantas makanan yang mengandung narkotika," tutur Bahdar.

Bahdar mengungkapkan, sektor makanan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan obat dan kosmetik. Maka BPOM juga mengharapkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pangan berbahaya. (rvk/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads