Fosil Manusia Purba

Fosil Manusia Purba di Ngada Lebih Kecil dari Hobbit Liang Bua: Tingginya 1 Meter

Erna Mardiana - detikNews
Kamis, 09 Jun 2016 11:37 WIB
Foto: Erna Mardiana/ jumpa pers di Badan Geologi
Jakarta - Penemuan fosil manusia tertua dari Mata Menge, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka pengetahuan baru. Fosil manusia purba ini selain lebih tua, berusia 700 ribu tahun, juga lebih kecil dibandingkan dengan fosil Homo Florensies, Liang Boa, 'manusia kerdil' dari NTT.

Peneliti dari Australia Gert Van den Bergh yang ikut meneliti soal fosil ini sejak 25 tahun lalu, mengungkapkan penemuan fosil enam gigi dan pecahan rahang bawah di Mata Menge, menunjukkan bahwa fosil itu berukuran kecil, lebih kecil dari Homo Florensiensis.

"Giginya awalnya kita kira itu gigi anak kecil, tapi setelah diteliti itu gigi dewasa. Pecahan rahangnya juga kecil. Tingginya kita perkirakan kurang dari 1 meter," ujar Gert Van den Bergh saat ekspos temuan fosil manusia purba dari Mata Menge, Ngada, NTT, di Museum Geologi, Jalan Diponegoro, Bandung, Rabu malam (8/6/2016).

Fosil Homo floresiensis yang ditemukan di Liang Bua mempunyai tinggi 1 meter dengan tangan lebih panjang dibandingkan kaki. "Namun sudah bisa bikin artefak, dan usianya diperkirakan 60 ribu tahun lalu," tambah Gert Van den Bergh.

Apakah fosil di Mata Menge ada hubungannya dengan fosil Homo florensiensis? "Ya apakah nenek moyangnya Homo florensiensis? Belum jelas, tapi bisa jadi," cetusnya.

Menurutnya fosil manusia purba dari Mata Menge ini juga sedikit mirip dengan Homo erectus. "Tapi ini ukurannnya lebih kecil," katanya.

Gert Van den Bergh tak berani menyimpulkan terlalu cepat mengenai fosil manusia purba dari Mata Menge ini. "Ini yang kita dapat baru gigi dan potongan rahang bawah. Ada serpihan otak, tapi kecil sekali, tidak berarti apa-apa," tandasnya.

Dari hasil penelitian gigi itu, disimpulkan usia fosil manusia purba di Mata Menge sekitar 700 ribu tahun lalu. "Anda tahu semua, banyak orang berpendapat, sebelum Nabi Adam, ada makhluk seperti manusia di bumi ini. Dan saat ini makin banyak temuan yang membuktikannya," ujarnya.

Gert Van den Bergh terlibat dalam penelitian ini sudah hampir 25 tahun lalu saat ia masih menjadi mahasiswa Wollongong University, Australia. (ern/dra)