Cerita Penyamaran Risma untuk Selamatkan Siswa Terancam Putus Sekolah

Judicial Review UU Pemda

Cerita Penyamaran Risma untuk Selamatkan Siswa Terancam Putus Sekolah

Rina Atriana - detikNews
Rabu, 08 Jun 2016 13:45 WIB
Cerita Penyamaran Risma untuk Selamatkan Siswa Terancam Putus Sekolah
Risma datang ke MK (rina atriana/detikcom)
Jakarta - Bersaksi di sidang gugatan UU Pemda di MK, Wali Kota Surabaya 'flashback' ke tahun 2008 di mana dia masih menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya. Risma bercerita saat itu dia pernah menyamar menjadi wali murid dan memarahi pihak sekolah yang meremehkan orang tak mampu.

Risma di MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (8/6/2016), mengawali ceritanya saat ia menerima surat dari seorang bapak yang mengeluh tak bisa membayar biaya sekolah anaknya karena usahanya bangkrut. Risma pun kemudian membayarkan biaya sekolah tersebut.

"Dia menyampaikan anak saya tidak membayar sehingga tidak bisa ikut ulangan. Kemudian saya ke sana dengan kesadaran sendiri untuk membantu supaya anak-anak ini bisa ikut ulangan," ujar Risma.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sekolah tersebut, Risma diberi tahu seorang guru bahwa yang harus dibayar Rp 900 ribu. Terdiri dari Rp 450 ribu untuk biaya kursus, dan Rp 450 ribu lainnya untuk biaya rekreasi.

"Saya menyamar saat itu, saksinya ada, saya sampaikan 'ibu tolong saya akan membayar uang sekolah', dia jawab 'enggak, sekolah itu gratis. tapi ini uang kursus'. Saya bilang apa itu istilahnya pokoknya saya mau bayar," tutur Risma.

Risma juga dijelaskan pihak guru bahwa banyak anak-anak lain yang juga belum membayar. Totalnya sekitar Rp 5 juta. Risma menyanggupi akan membayarnya.

"Di situ beliau menyampaikan begitu saya mau bayar uang anak yang lain sekitar Rp 5 juta 'Untuk rekreasi saja Rp 450 ribu aja enggak bisa'. Saya digitukan, di situ saya marah kemudian saya buka kalau saya Kepala Bappeko. Saya menilai ini tidak adil untuk anak kiskin," bebernya.

Risma juga bercerita mengenai seorang anak yang tak bisa menebus ijazahnya, kemudian dia tebuskan senilai hampir Rp 1 juta. Cerita lainnya yaitu mengenai uang operasional SMP anak dari stafnya senilai Rp 3 juta. Padahal gaji seorang staf tak sampai segitu.

"Saya punya anak buah, PNS, anaknya sekolah di samping kantor saya di SMP 1 uang operasionalnya Rp 3 juta, bagaimana mungkin, saat itu gaji saya Kepala Bappeko hanya Rp 4 juta, staf dia. Mana cukup? anaknya pinter itu," ujar Risma.

"Setelah saya jadi wali kota, masyarakat surabaya memberi amanah kepada saya, saya sampaikan kepada kepala sekolah semuanya, kepala dinas pendidikan, saya akan penuhi biaya berapa pun biaya pendidikan asal sekolah gratis," tutupnya (rna/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads