Menteri LHK Sebut Rob Dipengaruhi Perubahan Iklim

Menteri LHK Sebut Rob Dipengaruhi Perubahan Iklim

Ferdinan - detikNews
Selasa, 07 Jun 2016 19:55 WIB
Menteri LHK Sebut Rob Dipengaruhi Perubahan Iklim
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyebut banjir air laut pasang (rob) di kawasan pesisir utara Jakarta dan di beberapa wilayah Indonesia terjadi bukan karena reklamasi melainkan pengaruh iklim. Kondisi ini harus diwaspadai warga khususnya di wilayah Jakut.

"Sebetulnya sih banjir di sana sudah sejak tahun (lama), saya masih sekjen Depdagri saja sudah banjir di sana. Tapi memang betul bahwa dengan perubahan iklim peluang untuk banjir karena rob memang besar. " ujar Siti kepada wartawan usai buka puasa bersama di kantor DPP NasDem, Jl Gondangdia, Jakpus, Selasa (7/6/2016).

Bukan hanya di Indonesia, rob menurut Siti juga terjadi di negara-negara Pasifik. Karena itu masyarakat utamanya di kawasan utara Jakarta harus tetap waspada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan di negara negara kepulauan pasifik itu sudah 350 ribu orang kehilangan tempat tinggal karena hal-hal seperti itu. Yang penting kita waspadai saja," imbuhnya.

Soal tanggul-tanggul yang tidak layak dan rawan jebol, Pemprov sambung Siti yang memiliki tanggungjawab melakukan penanganan. Sedangkan pemerintah pusat sudah mencanangkan proyek tanggul raksasa atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

"(Rob Jakut) Sekarang penanganannya masih di Pemda DKI. Memang pada rapat terakhir di rapat terbatas kabinet, itu presiden memerintahkan kepada Bappenas untuk merencanakan secara menyeluruh dan secara luas, NCICD. Plannya harus dibuat di Bappenas," sebut Siti.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab rob di Pantai Utara Jawa termasuk Jakut disebabkan oleh pengaruh astronomi bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus (spring tide) yang mengakibatkan naiknya tinggi muka laut.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S Swarinoto mengatakan kondisi ini merupakan siklus rutin bulanan yang normal terjadi.

Namun karena bersamaan dengan terjadinya anomali positif tinggi muka air laut di wilayah Indonesia sebesar 15 – 20 cm, maka kondisi ini memberikan dampak yang menimbulkan kerugian materi di beberapa wilayah seperti pesisir Jakarta, Pekalongan, dan Semarang. (fdn/dra)


Berita Terkait