Komnas PA Berencana Bangun Prasasti Kekerasan Terhadap Engeline di Sanur

ADVERTISEMENT

Komnas PA Berencana Bangun Prasasti Kekerasan Terhadap Engeline di Sanur

Nathania Riris Michico - detikNews
Selasa, 07 Jun 2016 14:39 WIB
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait/Foto: Nathania Riris Michico
Jakarta - Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Ariest Merdeka Sirait mencanangkan adanya Hari Anti Kekerasan pada Anak. Hari tersebut akan jatuh pada setiap tanggal 10 Juni sebagai momentum pengingat akan kisah memilukan yang dialami bocah Engeline, setahun silam.

"Kasus Engeline ini salah satu potret anak Indonesia masih membutuhkan perlindungan, tanggal 10 Juni itu (Engeline) ditemukan dengan kondisi sangat menakutkan dan dari perisitiwa itu Komnas PA sudah mengatakan10 Juni bisa digunakan menjadi hari anti kekerasan pada anak," kata Ariest kepada wartawan di Ibis Hotel, Jakarta Barat, Selasa (07/06/2016).

Ariest mengatakan 10 Juni menjadi hari yang tepat untuk memperingati anti kekerasan bagi anak karena seluruh perhatian masyarakat telah tersedot pada peristiwa nahas yang menimpa Engeline.

Selain hari pengingat tersebut, Ariest bersama tim Reaksi Cepat Komnas PA juga telah menyiapkan prasasti sebagai monumen mengenang Angelin dan seluruh anak di Indonesia yang menjadi korban kekerasan.

"Prasasti ini sebagai lambang atau peringatan betapa anak Indonesia masih sangat membutuhkan perlindungan dari semua pihak dari kekerasan dalam bentuk apapun," ujar Ariest.

Nantinya prasasti ini akan ditempatkan di wilayah sedap malam di Bali dan diharapkan selain sebagai kunjungan wisata, masyarakat juga dapat mengenang kisah Engeline dan anak-anak lain yang membutuhkan perlindungan dari tindak kekerasan.

Hingga saat ini pihak Komnas PA masih berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mendapat perizinan tempat dan diharapkan menjadi lambang gerakan memutus mata rantai tindak kejahatan pada anak.

Arist belum mau merinci mengenai berapa dan darimana biaya untuk pembangunan prasasti untuk Engeline tersebut.

"Maka pantaslah (ada prasasti) kan ditemukannya jenazah di Bali tanggal 10 Juni dan 10 Juni selanjutnya harus dikenang oleh semua masyarakat khususnya anak Indonesia sebagai hari anti kekerasan pada anak," tutup Ariest.

(faj/faj)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT