"Audit bulan Januari-Mei 2016 itu hasilnya bagus. Tapi ternyata oknum-oknum tersebut menggunakan teknologi canggih untuk mengelabui Pertamina dan kepolisian," ujar General Manager Pertamina Jawa Bagian Barat Jumali dalam jumpa pers mengenai kecurangan takaran BBM di SPBU di Ciputat. Jumpa pers yang juga dihadiri VP Corporate CommunicationWianda Pusponegoro itu bertempat di SBPU Pertamina 31.102.02 di Jl Abdul Muis, Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Selasa (7/6/2016).
Jumpa pers Pertamina (Foto: Nathania/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Modus ini memang modus baru, cukup canggih menggunakan remote pengendali jarak jauh dan matching dengan pengecekan kita 4 bulan berturut-turut. Ini artinya dia bisa mengatur kalau mendadak ada pemeriksaan atau sidak ke SPBU-SPBU," ucap dia.
Padahal, lanjutnya, pihaknya telah mengontrol dari semua aspek internal dari Badan Metrologi dan menyewa auditor independen untuk memastikan takaran itu sesuai dengan ketentuan yang ada.
Dengan mengotak-atik dispenser BBM dan memakai alat tertentu, pengelola SPBU 34-12305 di Jalan Raya Pahlawan, Rempoa Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, mengurangi takaran. Konsumen yang membeli 20 liter Pertamax, hanya mendapat 18,6 liter. (nwy/nrl)












































Jumpa pers Pertamina (Foto: Nathania/detikcom)