Akom datang ditemani oleh Wakil Ketua DPR Agus Hermanto dan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Pantauan di lokasi, Senin (6/6/2016), Akom dan Agus meski berbecek-becekan tetap blusukan ke sudut-sudut pasar.
Begitu tiba di pasar, Akom langsung menghampiri penjual jengkol. Setelah sedikit mengobrol dengan pedangnya, ia lalu memborong jengkol yang masih belum dikupas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politisi Golkar itu langsung membeli jengkol yang masih muda tersebut sebanyak 10 kg. Ada yang lucu, saat hendak membayar belanjaannya, Akom mengeluarkan uang dari amplop cokelat yang terlihat ada kop-nya.
"Kalau masih dari amplop ini mah honor," goda Agus dan diamini Akom.
Setelah itu, Akom juga menghampiri pada buruh kupas jengkol. Ia pun mendapat penjelasan bahwa jengkol yang sudah dikupas namun belum disortir bisa dihargai Rp 35-45 ribu. Jengkol asalan itu masih disortir lagi.
"Kalau yang tua, yang bagus bisa Rp 50 ribu," jelas pedagang jengkol, Poyan yang mengambil barang dagangannya dari Padang.
Para pimpinan DPR tersebut sempat berhenti ke sejumlah lapak pedangang. Akom lalu kembali berbelanja membeli cabai rawit merah yang saat ini mengalami penurunan harga.
"Sebelum puasa Rp 25 ribu/kg. Sekarang puasa turun, jadi Rp 17/kg," tutur pedagang cabai rawit kepada Akom dan Agus.
Jika cabai merah turun, harga cabai rawit ternyata melonjak cukup tajam. Dari yang biasanya satu kilo Rp 8 ribu, hari ini naik menjadi Rp 14 ribu. Menurut pedagang, harga cabai rawit naik karena kurangnya pasokan dari daerah.
Lapak yang menjadi perhentian Akom dan Agus selanjutnya adalah pedagang bawang merah. Harganya mengalami penurunan karena pasokan yang melimpah. Dari obrolan Akom dengan distributor, harga bawang merah diprediksi akan semakin turun hingga Hari Raya Idul Fitri nanti.
"Persedian banyak, harga bisa normal sampai menjelang lebaran. Jadi kalau harga bawang merah tinggi, berarti ada apa-apa, berarti ada mafia karena beliau ini distributor," terang Akom.
Dengan kondisi seperti itu, ia pun menegaskan tidak boleh ada impor bawang merah. Sebab karena pasokan banyak, harga bawang merah tidak terpengaruh saat memasuki bulan ramadan. Penjual menyebut harga bawang merah bisa mencapai harga terendah yaitu Rp 15 ribu/kg.
"Prediksi penjual harga makin turun karena mulai panen. Kemarin emang suplay kurang, jadi harga melambung tinggi. Mudah-mudahan sampai lebaran stok cukup jadi harga normal," kata Agus.
Akom lalu meminta distributor bawang merah, Pak Naryo, untuk menjelaskan kondisi pasar. Sebab belakangan ada isu-isu Indonesia kekurangan pasokan sehingga harga melambung tinggi dan perlu melakukan impor.
"Untuk bulan ini bawang tidak akan naik, karena di daerah Jatim sudah panen. Brebes juga panen. Nggak usah bawang impor, itu pemberitaan kalau bawang sampai Rp 48 ribu, nggak bener. Kemarin paling tinggi cuma Rp 30 ribu. turun kemarin Rp sampai 20 ribu. Hari ini naik Rp 23 ribu tapi bisa turun lagi," ucap Naryo.
Setelah membeli bawang sebanyak 10 kg, Akom kembali berkeliling. Ia juga memborong buah melon dan berinteraksi dengan sejumlah pedagang buah. (elz/erd)











































