Sinyal yang muncul saat Ahok menyatakan akan 'rujuk' dengan Djarot Saiful Hidayat jadi bola liar. Ahok bisa saja membantah, tapi sekecil apa pun sinyal dalam politik selalu rawan jadi isu besar. PDIP memandang pernyataan Ahok itu sebagai sebuah pertanda sang cagub DKI incumbent mulai kehilangan kepercayaan diri.
"Ini persoalan kepercayaan diri. Kalau kita simak, kita cermati peta politik yang ada di Jakarta akhir-akhir ini dengan intensnya parpol di Jakarta melakukan pertemuan untuk menyamakan persepsi mengenai pilgub, kepercayaan diri incumbent sudah mulai menurun," ujar Gembong saat dihubungi detikcom Minggu (5/6/2016) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PDIP bisa dibilang kini merasa di atas angin. Apalagi kini PDIP tengah menjajaki koalisi besar dengan Gerindra, PKS, PKB, dan PAN untuk satu tujuan yakni melawan calon kepala daerah independen. Dengan kondisi Ahok yang dirasa bimbang, PDIP pun semakin mantap dengan gagasan koalisi besarnya itu.
"Rencana pertemuan dengan Demokrat akan kita lakukan pada Rabu (8/6). Kalau untuk Golkar kita jadwalkan lebih lanjut," sebut dia.
Saat PDIP 'mengobok-obok' Ahok yang di tengah kegalauan, Teman Ahok tak tinggal diam. Mereka terus bicara soal dukungan KTP untuk Ahok yang hampir tembus sejuta. Bahkan mereka menyebut Djarot yang kini masih menjabat wagub DKI sudah dilupakan oleh Ahok, sebuah pernyataan bertolak belakang dengan pernyataan Ahok yang sempat ingin 'rujuk'.
"Saya yakin Pak Ahok sudah melupakan Pak Djarot. KTP juga sudah hampir satu juta," ujar Singgih di Sekretariat Teman Ahok, Kompleks Graha Pejaten, Jalan Pejaten Raya, Jaksel, Minggu (5/6/2016).
Sebenarnya Ahok tak ingin isu ini berkepanjangan. Ahok sendiri sudah mengklarifikasi isu dirinya tengah bimbang dengan menegaskan bahwa dirinya makin mantap maju lewat jalur independen.
Lalu apa ujung perang urat syaraf PDIP dan Ahok?
(van/nrl)











































