"Itu kan belum ditemukan caranya. Tapi seandainya mau diterapkan ada 3 cara. Pertama secara astronomi harus ditemukan satu titik menjadi pusat penanggalan itu. Kalau di Gregorian (masehi) ada Greenwich. Tapi kan masalahnya Gregorian berdasarkan matahari saja. Sedangkan hijriah itu kan bulan," kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Machasin usai sidang isbat, di kantor Kemenag, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (5/6/2016).
Baca juga: Menag Imbau Tempat Hiburan Sampai Admin Medsos Jaga Kesucian Ramadan
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Machasin mengatakan metodi astronomi yang akurat harus ada lantaran penanggalan berdasarkan posisi bulan berbeda dengan berdasarkan posisi matahari. Kemudian cara kedua yang bisa digunakan yaitu adanya kesepakatan tokoh-tokoh Islam.
Baca juga: Ketua MUI: Insya Allah Puasanya Bareng, Lebarannya Juga Bareng
"Masing-masing daerah bisa memunculkan sendiri. Ketiga siapa yang mau melaksanakan? Kalau Turki ini apa yang akan dihasilkan. Secara garis besar bisa. Saya setuju. Negara yang jamnya lebih cepat dari pada pusat. Bisa pakai hisab atau rukyat. Atau digabungkan
rukyat dan hisab," tuturnya. (rna/dha)










































