Mahasiswa Yogya Geruduk Kantor Pertamina
Senin, 21 Mar 2005 17:01 WIB
Yogyakarta - Aksi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga masih marak di Yogyakarta. Sekitar 200 mahasiswa tergabung dalam Aliansi Masyarakat Jogjakarta Tolak Kenaikan BBM kembali mendatangi kantor Pertamina Unit Pemasaran IV Yogyakarta. Mereka meminta pemerintah dan DPR segera membatalkan kenaikan BBM.Aksi yang digelar Senin (21/3/2005) diikuti BEM UGM, BEM UNY, BEM UPN, KM UKDW, GMNI, LMND, FMN DIY, IMM, HMI MPO Sleman, PKMRI dan KAMMI DIY. Aksi yang dimulai pada pukul 14.00 WIB itu diawali dari Bunderan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Setelah massa berkumpul dilanjutkan longmarch menuju kantor Pertamina di Jl Mangkubumi Yogyakarta. Beberapa spanduk yang dibawa, "BBM naik SBY ingkar janji, BBM naik = SBY turun."Ketika massa datang, pintu gerbang kantor Pertamina sudah digembok oleh satpam. Sekitar satu peleton anggota Poltabes Yogyakarta juga berjaga-jaga di sekitar lokasi. Sementara itu beberapa karyawan sudah pulang lebih awal setelah mengetahui kantor akan jadi sasaran demo.Massa akhirnya hanya menggelar orasi di depan pintu gerbang. Saat beberapa orang berorasi, massa yang ada di barisan paling depan berusaha mendobrak pintu gerbang dengan menggoyang-goyangkan pagar besi sambil mengibarkan bendera masing-masing elemen.Saat digelar orasi, beberapa wakil bernegosiasi dengan petugas dan pimpinan Pertamina agar diperbolehkan menggelar aksi di dalam halaman kantor. Setelah bernegosiasi yang cukup alot, akhirnya massa diperbolehkan menggelar aksi didalam halaman dengan penjagaan aparat cukup ketat.Koordinator umum aksi Akbar Tri Kurniawan dalam orasinya mengatakan, rapat paripurna yang digelar DPR hari ini harus membatalkan kenaikan BBM yang dilakukan pemerintahan SBY. Namun bila pemerintah tidak membatalkan kenaikan harga BBM dan DPR tidak menyatakan sikap, rakyat dan mahasiswa akan terus melakukan perlawanan. "Tidak ada kata lain kecuali menolak dan melawankenaikan BBM," katanya.Selain itu Akbar juga mempertanyakan masalah kompensasi subsidi BBM yang akan dialokasikan untuk pendidikan dan penanggulangan kemiskinan. Sebab selama ini dana kompensasi BBM itu tidak pernah sampai dan justru banyak diselewengkan."Kita jangan percaya dengan dana kompesasi itu karena hanya sebagai obat penenang agar rakyat tidak menentang lagi," katanya.Koordinator aksi lainnya, Wahyu, mengatakan, pemerintah SBY lagi-lagi telah melakukan kebohongan publik setelah menaikkan harga BBM 1 Maret 2005 lalu. Meski pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk minyak tanah sebesar Rp 900/liter tetapi kenyataan di lapangan harga mencapai Rp 1.200 - 1.400/liter.
(nrl/)











































