Apa hubungan antara gempa yang terjadi di Sumbar dan Bengkulu itu dengan aktivitas Gunung Kerinci?
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, data pada pos pengamatan Gunung Kerinci PVMBG menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan dan tremor yang terjadi menerus dengan amplitudo 0,5-2,0 mm. Hujan abu tipis juga dilaporkan terjadi, serta munculnya kepulan asap di sekitar gunung dengan ketinggian asap sekitar 400 hingga 500 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daryono mengatakan, banyak pertanyaan dilontarkan oleh warga mengenai kemungkinan adanya kaitan antara gempabumi kuat yang baru saja terjadi dengan aktivitas erupsi Gunung Kerinci. Apakah ada hubungan antara aktivitas gempa bumi kuat dengan meningkatnya aktivitas gunung api?
Untuk menjawabnya, kata Daryono, tentu harus memahami kondisi tektonik regional serta konsep hubungan stres-strain paska gempa bumi hingga terbentuknya tekanan di dapur magma.
Daryono menjelaskan, Gunung Kerinci terletak di zona Sesar Sumatera dan relatif dekat denga zona subduksi lempeng. Karena terletak di zona tektonik aktif, maka secara geologis, terbentukya Gunung Kerinci tidak lepas dari proses tektonovolkanik di zona ini.
"Sehingga, kondisi fisiografi, seismisitas, dan vulkanisme setempat sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan Lempeng Indo Australia dengan Lempeng Eurasia," katanya.
Kondisi ini, lanjut Daryono, menjadikan zona barat Sumatera sebagai salah satu kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan dan gunung api yang tinggi di Indonesia. Jika aktivitas gunung api sebagai bagian dari rangkaian aktivitas subduksi lempeng, maka meningkatnya aktivitas Gunung Kerinci saat ini tidak lepas dari aktivitas seismik dan dinamika tektonik regional yang sedang aktif akhir-akhir ini.
"Jika mengamati peta sebaran gunung api, tampak bahwa seluruh jalur gunung api letaknya berdampingan dengan jalur gempa bumi. Pada banyak kasus erupsi gunung api di dunia menunjukkan bahwa paska gempa bumi kuat memang banyak terjadi erupsi gunung api," kata Daryono.
Daryono melanjutkan, Eggert dan Walter (2009) dalam penelitian hubungan antara aktivitas gempabumi dan erupsi gunung api menghasilkan kesimpulan bahwa aktivitas erupsi gunung api lebih sering terjadi pada gunung api yang terletak di zona seismik aktif. Secara tektonovolkanik, gempa bumi kuat memang dapat mengaktifkan erupsi gunung api.
"Aktifnya gunung api berkaitan dengan dinamika tektonik di sekitar kantung magma. Dalam hal ini peristiwa gempa bumi besar dapat memicu aliran magma ke dalam kantung magma," katanya.
Dijelaskan Daryono, akumulasi tegangan litosfir yang berlangsung di sekitar gunung api juga dapat memicu erupsi gunung api. Dalam hal ini stres-strain akibat gempa bumi kuat mampu menekan cebakan magma.
"Sehingga aktifnya gunung api dapat dimulai ketika berlangsung induksi perambatan stress-strain saat terjadi gempabumi. Dalam hal ini gempa bumi kuat yang terjadi dekat dengan gunung api dapat memicu naiknya magma dari dalam bumi ke kantung magma," katanya.
Daryono mengatakan, teori lain juga menjelaskan bahwa aktivitas gempa bumi dekat gunungapi mampu mengubah tekanan gas dapur magma. Fenomena ini dapat dianalogikan seperti sebuah botol minuman soda yang dikocok hingga timbul gelembung-gelembung gas yang kemudian bergerak naik, selanjutnya menekan dan melepaskan sumbatan hingga terjadi letupan keras.
"Mengingat Gunung Kerinci kini sudah ditetapkan berstatus waspada, maka kepada seluruh warga sekitar Gunung Kerinci diimbau agar selalu waspada dengan mentaati arahan dan himbauan PVMBG. Harapan kita, semoga aktivitas Gunung Kerinci akan segera menurun dan kembali normal," tutupnya.
(jor/mad)











































