Seperti terlihat di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Sabtu (4/6/2015), lapak pedagang bunga menjamur di sekitar pemakaman. Beberapa di antaranya adalah pedagang minuman yang ikut menjajakan kembang.
Berziarah ke makam sanak saudara sudah menjadi tradisi sebelum Ramadan. Kembang menjadi pelengkap bagi peziarah yang datang. Entah dari mana tradisi itu dibawa, namun mereka menganggap hal jadi kebiasaan dari turun temurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yati sendiri memiliki keyakinan yang berbeda. Dirinya mempercayai kembang untuk makam hanya sebagai penghias.
"Kalau saya juga bawa kembang tetapi bukan untuk apa, pikir saya ibarat rumah setiap tahun pasti direnovasi, makam suami kalau ziarah juga dikasih kembang biar cantik aja, udah gitu jadi wangi," papar wanita yang pernah bekerja di Arab Saudi.
Kebiasaan ziarah bawa kembang kata Yati tidak pernah dilihatnya di Arab Saudi. Warga Muslim di sana memiliki tradisi penaburan kembang dan air mawar dilakukan saat penguburan.
"Kalau di sana berbeda. Kebetulan saya pernah kerja sebagai pembantu orang kedutaan, di Arab kembang yang dibawa hanya bunga mawar dan air mawar. Itu ditaburi ketika penguburan," sambungnya.
Sepeninggal keluarga dikubur lanjut Yati muslim di Arab Saudi tidak pernah melakukan ziarah. Adapun mereka hanya datang di tahun selanjutnya untuk berdoa.
"Kalau di sana makam itu enggak kaya di sini ada bentuknya. Kalau di sana cuma batu saja sebagai tanda. Kalau sudah setahun paling mereka datang ke sebuah aula di kawasan pemakaman untuk berdoa," pungkasnya. (edo/imk)










































